Di dalam lembaran (shahifah) Nabi Idris as tertulis : Allah berfirman :
“Berbahagialah suatu kaum yang beribadah kepada-Ku dengan cinta, dan mengambil-Ku sebagai Tuhan Sembahan (Ilah), dan Tuhan Pengatur (Rabb), berjaga malam untuk melakukan shalat, dan bekerja sungguh-sungguh di siang hari demi mengharapkan Wajah-Ku, bukan karena rasa takut dan harap, bukan karena Neraka atau Surga, tetapi karena cinta yang sesungguhnya….” (Bihar al-Anwar 95 : 467)
MUHYIDDIN Ibn ‘Arabi qs mengatakan, “Cinta adalah realitas yang satu dan sama untuk semua para pecinta, termasuk diriku, tetapi objek cinta kita berbeda, karena mereka mencintai sebuah manifestasi sedangkan aku mencintai Esensi (Zat).
Kami (Ibn ‘Arabi) memiliki pola-pola di dalamnya, karena Allah hanya memberi mereka cinta kepada manusia seperti diri mereka sendiri, sehingga dengan cara itu Dia bisa memperlihatkan kepalsuan dari orang-orang yang berpura-pura mencintai-Nya yang tidak merasakan kegembiraan dan keterpesonaan dalam mencintai-Nya sebagaimana orang-orang yang terpikat dan kehilangan akalnya dan membuat mereka tidak sadar akan dirinya sendiri. 172]
Rumi bersyair :
Jika bukan karena cinta pada Wajah-Mu
untuk apa aku harus berkisaran bagai langit,
yang dicari oleh rembulan? 173]
Secara umum, cinta seseorang dengan manusia lainnya adalah sama. Semua pencinta, dari kalangan awam sampai ke kalangan kaum ‘urafa memiliki realitas cinta yang sama. Yang membedakan antara cinta kita dengan kaum ‘urafa adalah kwalitas cinta mereka yang lebih tinggi ketimbang yang kita miliki.
Kwalitas cinta seseorang bergantung dari sejauh mana pengenalan (ma’rifat) seseorang terhadap sifat-sifat Yang Dicinta. Semakin jauh dan dalam tingkat pengenalan seseorang kepada Yang Dicinta, maka semakin tinggi pula kwalitas cintanya. Kwalitas cinta tertinggi dari para pencinta adalah bentuk kecintaan yang ditujukan hanya pada Esensi Yang Dicinta.
Semua ini bisa disimpulkan bahwa kwalitas ruhani seseorang pun sangat menentukan bentuk cinta yang ia miliki. Apabila ia seorang yang memiliki kwalitas ruhani yang tinggi, maka dapat dipastikan kwalitas cintanya pun saemakin tinggi dan murni.
Dan karena kwalitas-kwalitas ruhani ini tersembunyi di dalam diri manusia, maka tidak seorang pun yang bisa mengetahui keadaan dan kondisi cinta yang sesungguhnya pada masing-masing orang.
Namun demikian, orang-orang tertentu, yang memiliki mata batin yang tajam bisa membedakan orang yang sekedar berpura-pura mabuk dalam kerinduannya dengan orang-orang yang benar-benar terpesona dan tercerap oleh cinta-Nya.
Dikisahkan oleh Rasulullah saww bahwa Nabi Syu’aib as senantiasa menangis karena cintanya (rindunya) kepada Allah ‘Azza wa Jalla sampai kedua matanya menjadi buta. Namun Allah mengembalikan (menyembuhkan) matanya seperti semula. Tetapi kembali Nabi Syu’aib as menangis hingga buta kedua matanya, maka Allah kembalikan matanya menjadi seperti semula.
Namun kembali lagi ia menangis seperti biasanya, berulang sampai yang keempat kalinya, hingga Allah ‘Azza wa Jalla pun menyapanya, “Wahai Syu’aib, sampai kapan kamu melakukan hal yang demikian ini terus menerus? Jika kamu melakukan hal ini karena rasa takutmu pada Neraka, maka Aku akan menjauhkanmu darinya, dan jika kamu melakukan hal ini karena kamu merindukan Surga, maka akan Kuhadiahkan untukmu Surga?”
Syu’aib pun menjawab, “Ilahi, Tuhanku, Junjunganku, Engkau tentu tahu bahwa aku menangis bukan karena takut pada Neraka-Mu, dan bukan juga karena rindu pada Surga-Mu. Tapi telah terpaut cintaku pada-Mu dalam hatiku hingga aku pun tak mampu bersabar hingga kudapat melihat-Mu. Maka Allah wahyukan kepadanya : “Jika memang demikian keadaanmu, akan Aku datangkan kepadamu seorang yang akan berkhidmat kepadamu, dia adalah orang yang telah berbicara kepada-Ku, namanya Musa putera ‘Imran” 174]
Seperti yang kita ketahui, akhirnya Nabi Syu’aib as bertemu dengan Nabi Musa as, dan bahkan Syu’aib as menikahkan putri sulungnya dengan Musa as.
Kisah-kisah para Nabi as adalah kisah-kisah yang indah, penuh hikmah dan memiliki kesan yang kuat bagi orang-orang yang berhati lembut lagi halus.
Perhatikanlah kisah perjumpaan Nabi Syu’aib dan Nabi Musa as yang diawali karena cinta dan kerinduan yang telah membakar hati Nabi Syu’aib, sampai puncaknya ia ingin melihat Allah SwT.
Allah SwT tidak menyingkapkan hijab antara Syu’aib as dengan diri-Nya, tetapi Dia mendatangkan Musa as yang merupakan Insan Kamil, manifestasi Tuhan yang sempurna. Melihat Musa as sama dengan melihat Dia. Karena Musa as telah diserap oleh cahaya cinta-Nya dan ia telah menembus masuk ke dalam sifat dan nama-nama-Nya.
“Tuhanku, karuniai daku keterputusan mutlak
dari selain-Mu kepada-Mu,
dan terangi penglihatan hati kami
dengan cahaya penglihatan kepada-Mu,
sedemikian rupa sehingga terkoyaklah dengannya
hijab hijab cahaya dan tercapailah mata air kecemerlangan,
sehingga menyatulah ruh-ruh kami
dengan Keagungan dan Kesucian-Mu,
(Munajat Sya’baniyyah, Mafatih al-Jinan)
Laa hawla wa laa quwwata illa billah
Sumber : qitori
Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc
Posting Komentar