Tafakur

Kenapa tak henti-hentinya dirimu melupakan Alloh?, Padahal sedetikpun Dia tak pernah melupakanmu, Kenapa tak henti-hentinya kau puja cinta yang tak sebenarnya?, Sedangkan Sang Maha Cinta tak pernah melepaskan Cinta-Nya darimu.

Menu

Berlangganan

Dapatkan Artikel Terbaru Sufizone

Masukkan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

Visitor

2.Karier Intelektual Imâm al-Ghazâlî

Pada masa pemeliharaan si sufi pemegang wasiat ayahnya, Imâm al-Ghazâlî sudah diajari menulis (khath). Pada waktu dia dimasukkan ke sebuah madrasah di Thûs oleh walinya yang tidak lagi mampu memberi nafkah kehidupanya. Imâm al-Ghazâlî mulai belajar fikih Syafi'i dan teologi Asy’ari dari seorang guru yang bernama Ahmâd ibn Muhammad al-Razakanî al-Thûsî. Inilah awal mula Imâm al-Ghazâlî bergelimang dengan dunia ilmu yang digelutinya sampai akhir hayatnya. Setelah itu, dia melanjutkan studinya di Jurjan yang mempunyai madrasah lebih besar di bawah pimpinan seorang ulama bernama Abû Nashr al-Ismâ´ilî. Waktu itu usianya belum mencapai 20 tahun. Selain belajar ilmu agama, dia juga giat mempelajari bahasa Arab dan Persia.

Setelah menuntut ilmu di Jurjan, Imâm al-Ghazâlî kembali ke Thûs. Di sini dia selama tiga tahun mengkaji ulang hasil pelajarannya di Jurjan sehingga dapat dikuasainya dengan baik. Selama itu, dia sempat pula mempelajari tasawuf dari Yûsuf al-Nassaj (wafat 487 H).

Sesudah itu, Imâm al-Ghazâlî berangkat ke Nisabur bersama beberapa temannya untuk berguru kepada Abû al-Ma´âlî al-Juwaynî (wafat 478 H), tokoh Asy’arisme masa itu yang sedang memimpin perguruan tinggi Nizhâmîyah. Di sini Imâm al-Ghazâlî belajar berbagi disiplin ilmu agama dan ilmu umum seperti fikih, ushûl al-Fikih, teologi, filsafat, dan metode berdiskusi. Dengan demikian, perkembangan intelektual dan kecerdasannya berkembang sehingga diakui gurunya sendiri. Dia digelari dengan Bahr al-Mughrîq (samudera yang menenggelamkan) dan sering diminta untuk mengajar adik-adik kelasnya. Di sini pula Imâm al-Ghazâlî memulai kariernya sebagai pengarang dengan menulis beberapa karya tulis di bidang fikih dan ushûl al-Fikih dalam madzhab Syâfi´î. Karyanya yang pertama berjudul Al-Mankhul fî ´Ilm al-Ushûl sangat menggembirakan gurunya, al-Juwaynî, meskipun di sisi lain sang guru merasa iri kepada Imâm al-Ghazâlî dengan mengatakan “Anda sampai hati menguburku padahal aku masih hidup. Apakah anda tidak sabar menunggu sampai aku meninggal ?”.Di sini pula Imam Al-Ghazali sempat belajar sufisme dari Abu ‘Ali al-Fadhl ibn Muhammad ibn ‘Ali al-Farmadhi (wafat 477 H) dari segi teori dan prakteknya. Dengan demikian, selama di Nisabur, kota terbesar di daerah Khurasan, Imâm al-Ghazâlî benar-benar menjadi seorang intelektual yang paripurna pengetahuannya dalam berdiskusi bersama para intelektual dan menulis dalam bentuk karya ilmiahnya.

Pada tahun 478 H/ 1085 M, Imâm al-Ghazâlî meninggalkan kota Nisabur dan menuju Mu´askar, karena guru yang sangat berjasa terhadap perkembangan intelektualnya, al-Juwaynî meninggal. Dia menuju Mu’askar dengan maksud ikut bergabung dengan para intelektual di sana dalam majelis seminar yang didirikan oleh Nizhâm al-Mulk, wazir Saljuk. Kehadiran Imâm al-Ghazâlî di majelis ini disambut gembira oleh Nizhâm al-Mulk yang selalu hadir dalam setiap acara dalam majelis ini. Nama Imâm al-Ghazâlî melangit karena kedalaman ilmunya, kehebatan analisisnya, dalam ketajaman argumentasinya sehingga semua partisipan mengakui keunggulannya. Dengan demikian jadilah Imâm al-Ghazâlî “imam” atau anutan para intelektual di wilayah Khurasan pada waktu itu. Lebih kurang enam tahun Imâm al-Ghazâlî bergelimang dengan perdebatan ilmiyah di Mu’askar ini. Selama itu ilmunya semakin mendalam, terutama di bidang fikih dan kalam. Akhirnya, setelah Nizhâm al-Mulk melihat reputasi ilmiahnya yang cemerlang itu, Imâm al-Ghazâlî pun diangkat sebagai guru besar sekaligus pemimpin perguruan al-Nizhâmîyah di kota Baghdad pada tahun 484 H/ 1091 M, yang sudah didirikan sejak tahun 458 H/ 1065 M.

Di Nizhâmîyah Baghâd, Imâm al-Ghazâlî memberi kuliah teologi dan fikih (Syâfi´î). Kuliah-kuliahnya dihadiri oleh tiga ratusan tokoh ulama yang tekun mengikutinya, termasuk di antaranya beberapa pemuka madzhab Hambalî, seperti Ibn ´Âqil dan Abû al-Khaththab. Sesuatu hal yang sangat langka terjadi pada saat permusuhan antar madzhab meruncing seperti pada masa itu. Oleh Karena itu, dengan cepat nama Imâm al-Ghazâlî terkenal di wilayah Irak, hampir saja mengalahkan kepopuleran para penguasa dan para panglima di ibu kota ´Abbâsîyah. Di sela-sela kegiatan mengajar, Imâm al-Ghazâlî juga mempelajari filsafat secara mendalam. Dalam tempo kurang dari dua tahun secara otodidak dia sudah menguasai segala aspek filsafat Yunani, terutama yang sudah diolah para filsuf Islam, seperti al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Maskawyh (wafat 421 H) dan mereka tergabung dalam “Ikhwân al-Shafâ”.Penguasaan Imâm al-Ghazâlî terhadap filsafat dibuktikan dengan sebuah karyanya berjudul Maqâshid al-Falâsifah (tujuan-tujuan para filsuf). Buku ini mendiskripsikan tiga pokok ajaran filsafat Yunani yaitu logika, metafisika, dan fisika. Dengan bahasa yang mudah dipahami. Menurut Sulaiman buku ini betul-betul dapat mempermudah para pemula mengkaji filsafat Yunani, karena susunannya yang sistematis dan bahasanya yang sangat mudah. Kemampuan di bidang filsafat ini diselaraskan dengan misi ulama dan para penguasa waktu itu, yaitu mengantisipasi pengaruh filsafat yang dianggap berbahaya bagi agama. Untuk itu Imâm al-Ghazâlî mengeluarkan karyanya yang kedua di bidang filsafat yang berjudul Tahâfut al-Falâsifah (keracunan para filsuf). Dengan karyanya yang monumental ini, Imâm al-Ghazâlî berhak menyandang gelar sebagai filsuf Islam. Isinya berpretensi untuk menghancurkan reputasi para filsuf di mata umat, karena adanya keracunan pemikiran mereka sehingga bertentangan dengan akidah yang benar. Reputasi Imâm al-Ghazâlî di bidang filsafat ini menambah ketenaran namanya karena memang belum ada seorang teolog pun yang selama ini mampu menghantam pemikiran para filsuf dengan senjata mereka sendiri, yaitu logika. Oleh karena itu, pada waktu Imâm al-Ghazâlî menghadiri penobatan Khalifah al-Mustazhîr bin Allâh pada tahun 487 H, dia diminta khalifah ´Abbâsîyah itu untuk menulis karyanya yang menghantam aliran Bathînîyah. Pada waktu itu gerakan Bathînîyah sedang gencar-gencarnya mengganggu stabilitas politik dan keagamaan. Imâm al-Ghazâlî pun menekuni doktrin-doktrin Bathînîyah, sampai lahirnya karyanya yang berjudul Fadhâ´ih al-Bathînîyah wa Fadhâ´il al-Mustazhirîyah. Selain itu Imâm al-Ghazâlî tetap mendalami bidang fikih dan kalam. Sehingga keluarlah beberapa karya tulisnya di bidang-bidang ini, seperti al-Wajîz (ringkasan), al-Wasîth (pertengahan), dan al-Basîth (sederhana) dalam bidang fikih, dan al-Iqtishâd (moderasi dalam akidah) di bidang kalam. Dengan demikian, Imâm al-Ghazâlî merupakan seorang sosok intelektual yang berhasil menyelaraskan kehidupan intelektualnya dengan aspirasi dan misi penguasa pada masanya. Wajarlah kalau Imâm al-Ghazâlî memperoleh kemewahan hidup di samping ketenaran nama. Imâm al-Ghazâlî akhirnya berhasil mencapai puncak karier intelektualnya yang menjadi harapan para intelektual pada umumnya.

Namun pada tahun 488 H/ 1095 M, Imâm al-Ghazâlî mendadak meninggalkan Baghdad menuju Damaskus di Syiria untuk menjalani cara hidup yang sama sekali lain dari kehidupannya selama di Baghâd. Dia meninggalkan keluarga dan jabatan yang dipangkunya berikut dengan kemewahan hidup yang diperolehnya saat itu, untuk hidup sebagai seorang sufi yang fakir dan zuhud terhadap dunia. Banyak pendapat para ahli muncul sekitar sebab intrinsik tindakan Imâm al-Ghazâlî. Di antaranya pendapat positivistik menyatakan bahwa Imâm al-Ghazâlî meninggalkan Baghâd karena takut terhadap gerakan Bathînîyah, yang pada waktu itu mengadakan serentetan pembunuhan terhadap beberapa tokoh ulama dan penguasa. Hal ini dijadikan alasan karena Imâm al-Ghazâlî baru saja mengeluarkan karyanya yang menghantam akidah golongan tersebut. Akan tetapi, Imâm al-Ghazâlî sendiri mengaku bahwa penyebab tindakannya itu adalah bersifat psikologis. Kemudian dalam pengakuannya, beliau mempunyai perkembangan spiritual yang unik, yang menyertai karier intelektualnya yang sukses. Pengakuan Imâm al-Ghazâlî ini tertuang dalam karyanya yang berjudul al-Munqîdz min al-Dhalâl (pembebasan dari kesesatan), yang ditulisnya sekitar tahun 501 H.

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc

Related Post



0 komentar

Posting Komentar

Share this post!
Facebook Delicious Digg! Twitter Linkedin StumbleUpon

Share

Share |

Artikel terbaru

Do'a

اللهم إني أسألك إيمانا يباشر قلبي ويقيناً صادقاً حتى أعلم أنه لن يصيبني إلا ما كتبته علي والرضا بما قسمته لي يا ذا الجلال والإكرام

Translation

Artikel Sufizone

Shout Box

Review www.sufi-zone.blogspot.com on alexa.com How To Increase Page Rankblog-indonesia.com blogarama - the blog directory Active Search Results Page Rank Checker My Ping in TotalPing.com Sonic Run: Internet Search Engine
Free Search Engine Submission Powered by feedmap.net LiveRank.org Submit URL Free to Search Engines blog search directory Dr.5z5 Open Feed Directory Get this blog as a slideshow!