Rasulullah saww pernah berdoa : “Aku tidak pernah mampu memuji-Mu (sebagaimana Engkau seharusnya dipuji). Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. Dan Engkau lebih dari apa yang dapat dijelaskan oleh (siapa pun makhluk)yang menjelaskan-Mu” 74]
Pada tataran puncak zikrullah ini, sang Insan Kamil justru tersadarkan pada satu titik kesadaran yang paling tinggi, inilah Kesadaran Ilahiyyah, yang mana sang pezikir mendapatkan Kesadaran ‘Ubudiyyahnya (Kesadaran Penghambaan) secara total. Kita lihat, bahwa kalimat kedua di dalam syahadat, (Asyhadu an laa ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasûluhu) bahwa kata ‘Abduhu (Hamba-Nya) diletakkan lebih dulu ketimbang derajat spiritual Nabi saww Rasûluhu (Rasul-Nya). Ini sebuah petunjuk yang tak perlu penjelasan lagi.
Di dalam munajat lainnya Rasulullah, sang Insan Kamil ini berdo’a :
“Tidaklah kami beribadah kepada-Mu
sebagaimana seharusnya Engkau diibadati,
Dan tiadalah kami mema’rifati-Mu
Sebagaimana seharusnya Engkau dima’rifati,
Engkau adalah sebagaimana Engkau
memuja Diri-Mu sendiri” 75]
Laa hawla wa laa quwwata illa billah – Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua.
Sumber : qitori
Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc












Posting Komentar