Tafakur

Kenapa tak henti-hentinya dirimu melupakan Alloh?, Padahal sedetikpun Dia tak pernah melupakanmu, Kenapa tak henti-hentinya kau puja cinta yang tak sebenarnya?, Sedangkan Sang Maha Cinta tak pernah melepaskan Cinta-Nya darimu.

Menu

Berlangganan

Dapatkan Artikel Terbaru Sufizone

Masukkan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

Visitor

Tampilkan postingan dengan label Zona Mahabbah. Tampilkan semua postingan



Ciri-ciri Wanita Solehah (Wanita Idaman)

Wanita adalah salah satu makhluk ciptaan Allah Subhaanahu wata’ala yang mulia. Karakteristik wanita berbeda dari laki-laki dalam beberapa hukum misalnya aurat wanita berbeda dari aurat laki-laki. Wanita memiliki kedudukan yang sangat agung dalam islam. Islam sangat menjaga harkat, martabat seorang wanita. Wanita yang mulia dalam islam adalah wanita muslimah yang sholihah.

Wanita muslimah tidak cukup hanya dengan muslimah saja, tetapi haruslah wanita muslimah yang sholihah karena banyak wanita muslimah yang tidak sholihah. Allah Subhaanahu wata’ala sangat memuji wanita muslimah, mu’minah yang sabar dan khusyu’. Bahkan Allah Subhaanahu wata’ala mensifati mereka sebagai para pemelihara yang taat. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

Artinya: “Maka wanita yang sholihah adalah yang taat, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah menjaga mereka.” (QS. An Nisa’:34)

Wanita shalihah adalah idaman setiap orang. Harta yang paling berharga, sebaik-baik perhiasan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: ”Dunia seluruhnya adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.”

Alangkah indahnya jika setiap muslimah menjadi wanita yang sholihah, idaman setiap suami. Oleh karenanya seyogyanya setiap wanita bersegera untuk memperbaiki diri dan akhlaqnya agar menjadi wanita yang sholihah. Oleh karena itu kita harus mengetahui sifat dan ciri-ciri wanita sholehah, di antaranya:

1. Pertama
Wanita muslimah adalah wanita yang beriman bahwa Allah Subhaanahu wata’ala adalah Rabbnya, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi-Nya, serta islam pedoman hidupnya. Dampak itu semua nampak jelas dalam perkataan, perbuatan, dan amalannya. Dia akan menjauhi apa-apa yang menyebabkan murka Allah, takut dengan siksa-Nya yang teramat pedih, dan tidak menyimpang dari aturan-Nya.

2. Kedua
Wanita muslimah selalu menjaga sholat lima waktu dengan wudlu’nya, khusyu’ dalam menunaikannya, dan mendirikan sholat tepat pada waktunya, sehingga tidak ada sesuatupun yang menyibukkannya dari sholat itu. Tidak ada sesuatupun yang melalaikan dari beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala sehingga nampak jelas padanya buah sholat itu. Sebab sholat itu mecegah perbuatan keji dan munkar serta benteng dari perbuatan maksiat.

3. Ketiga
Wanita muslimah adalah yang menjaga hijabnya dengan rasa senang hati. Sehingga dia tidak keluar kecuali dalam keadaan berhijab rapi, mencari perlindungan Allah dan bersyukur kepadaNya atas kehormatan yang diberikan dengan adanya hukum hijab ini, dimana Allah Subhaanahu wata’ala menginginkan kesucian baginya dengan hijab tersebut. Allah berfirman:

Artinya: “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab:59)

4. Keempat
Wanita muslimah selalu menjaga ketaatan kepada suaminya, seiya sekata, sayang kepadanya, mengajaknya kepada kebaikan, menasihatinya, memelihara kesejahteraannya, tidak mengeraskan suara dan perkataan kepadanya, serta tidak menyakiti hatinya.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا صلحت المرأة خمسها وصامت شهرها وأطاعت زوجهادخلت جنّة ربّها (رواه أحمد وطبراني)

5. Kelima
Wanita muslimah adalah wanita yang mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhaanahu wata’ala, mengajarkan kepada mereka aqidah yang benar, menanamkan ke dalam hati mereka perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjauhkan mereka dari segala jenis kemaksiatan dan perilaku tercela.

Allah berfirman, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim:6)

6. Keenam
Wanita muslimah tidak berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki bukan mahramnya.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Tidaklah seorang wanita itu berkhalwat dengan seorang laki-laki, kecuali setan menjadi pihak ketiganya” (Riwayat Ahmad)

Dia dilarang bepergian jauh kecuali dengan mahramnya, sebagaimana pula dia tidak boleh menghadiri pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali karena mendesak. Itupun harus berhijab. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Seorang wanita dilarang mengadakan suatu perjalanan sejarak sehari semalam keculai disertai mahramnya” (Mutafaq Alaih)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Diizinkan bagi kalian keluar rumah untuk keperluan kalian (wanita)” (Mutafaq Alaih)

7. Ketujuh
Wanita muslimah adalah wanita yang tidak menyerupai laki-laki dalam hal-hal khusus yang menjadi ciri-ciri mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki”

Juga tidak menyerupai wanita-wanita kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khusus mereka, baik berupa pakaian, maupun gerak-gerik dan tingkah laku. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من تشبه بقوم فهو متهم(رواه أحمد، أبودٰود وغيره)

8. Kelapan
Wanita muslimah selalu menyeru ke jalan Allah di kalangan wanita dengan kata-kata yang baik, baik berkunjung kepadanya, berhubungan telepon dengan saudara-saudaranya, maupun dengan sms. Di samping itu, dia mengamalkan apa yang dikatakannya serta berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

9. Kesembilan
Wanita muslimah selalu menjaga hatinya dari syubhat maupun syahwat. Memelihara matanya dari memandang yang haram. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

Artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nur: 31)

Menjaga farjinya, memelihara telinganya dari mendengarkan nyanyian dan perbuatan dosa. Memelihara semua anggota tubuhnya dari penyelewengan. Ketahuilah yang demikian itu adalah takwa. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

10. Kesepuluh
Wanita muslimah selalu menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia,baik siang hari atau malamnya. Maka dia menjauhkan diri dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), mencaci dan hal lain yang tidak berguna.

Artinya: “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling mencari kesalahan dan bersaing dalam penawaran, namun jadilah hamba-hamba Allah yang bersatu” (Riwayat Muslim)

Artinya: “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran” (Mutaffaq Alaih)

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:12)
Wanita muslimah tidak cukup hanya dengan muslimah saja, tetapi haruslah wanita muslimah yang sholihah karena banyak wanita muslimah yang tidak sholihah. Allah Subhaanahu wata’ala sangat memuji wanita muslimah, mu’minah yang sabar dan khusyu’. Bahkan Allah Subhaanahu wata’ala mensifati mereka sebagai para pemelihara yang taat. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

Artinya: “Maka wanita yang sholihah adalah yang taat, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah menjaga mereka.” (QS. An Nisa’:34)

Wanita shalihah adalah idaman setiap orang. Harta yang paling berharga, sebaik-baik perhiasan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: ”Dunia seluruhnya adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.”

Alangkah indahnya jika setiap muslimah menjadi wanita yang sholihah, idaman setiap suami. Oleh karenanya seyogyanya setiap wanita bersegera untuk memperbaiki diri dan akhlaqnya agar menjadi wanita yang sholihah. Oleh karena itu kita harus mengetahui sifat dan ciri-ciri wanita sholehah, di antaranya:

1. Pertama
Wanita muslimah adalah wanita yang beriman bahwa Allah Subhaanahu wata’ala adalah Rabbnya, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi-Nya, serta islam pedoman hidupnya. Dampak itu semua nampak jelas dalam perkataan, perbuatan, dan amalannya. Dia akan menjauhi apa-apa yang menyebabkan murka Allah, takut dengan siksa-Nya yang teramat pedih, dan tidak menyimpang dari aturan-Nya.

2. Kedua
Wanita muslimah selalu menjaga sholat lima waktu dengan wudlu’nya, khusyu’ dalam menunaikannya, dan mendirikan sholat tepat pada waktunya, sehingga tidak ada sesuatupun yang menyibukkannya dari sholat itu. Tidak ada sesuatupun yang melalaikan dari beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala sehingga nampak jelas padanya buah sholat itu. Sebab sholat itu mecegah perbuatan keji dan munkar serta benteng dari perbuatan maksiat.

3. Ketiga
Wanita muslimah adalah yang menjaga hijabnya dengan rasa senang hati. Sehingga dia tidak keluar kecuali dalam keadaan berhijab rapi, mencari perlindungan Allah dan bersyukur kepadaNya atas kehormatan yang diberikan dengan adanya hukum hijab ini, dimana Allah Subhaanahu wata’ala menginginkan kesucian baginya dengan hijab tersebut. Allah berfirman:

Artinya: “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab:59)

4. Keempat
Wanita muslimah selalu menjaga ketaatan kepada suaminya, seiya sekata, sayang kepadanya, mengajaknya kepada kebaikan, menasihatinya, memelihara kesejahteraannya, tidak mengeraskan suara dan perkataan kepadanya, serta tidak menyakiti hatinya.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا صلحت المرأة خمسها وصامت شهرها وأطاعت زوجهادخلت جنّة ربّها (رواه أحمد وطبراني)

5. Kelima
Wanita muslimah adalah wanita yang mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhaanahu wata’ala, mengajarkan kepada mereka aqidah yang benar, menanamkan ke dalam hati mereka perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjauhkan mereka dari segala jenis kemaksiatan dan perilaku tercela.

Allah berfirman, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim:6)

6. Keenam
Wanita muslimah tidak berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki bukan mahramnya.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Tidaklah seorang wanita itu berkhalwat dengan seorang laki-laki, kecuali setan menjadi pihak ketiganya” (Riwayat Ahmad)

Dia dilarang bepergian jauh kecuali dengan mahramnya, sebagaimana pula dia tidak boleh menghadiri pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali karena mendesak. Itupun harus berhijab. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Seorang wanita dilarang mengadakan suatu perjalanan sejarak sehari semalam keculai disertai mahramnya” (Mutafaq Alaih)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Diizinkan bagi kalian keluar rumah untuk keperluan kalian (wanita)” (Mutafaq Alaih)

7. Ketujuh
Wanita muslimah adalah wanita yang tidak menyerupai laki-laki dalam hal-hal khusus yang menjadi ciri-ciri mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki”

Juga tidak menyerupai wanita-wanita kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khusus mereka, baik berupa pakaian, maupun gerak-gerik dan tingkah laku. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من تشبه بقوم فهو متهم(رواه أحمد، أبودٰود وغيره)

8. Kelapan
Wanita muslimah selalu menyeru ke jalan Allah di kalangan wanita dengan kata-kata yang baik, baik berkunjung kepadanya, berhubungan telepon dengan saudara-saudaranya, maupun dengan sms. Di samping itu, dia mengamalkan apa yang dikatakannya serta berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

9. Kesembilan
Wanita muslimah selalu menjaga hatinya dari syubhat maupun syahwat. Memelihara matanya dari memandang yang haram. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

Artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nur: 31)

Menjaga farjinya, memelihara telinganya dari mendengarkan nyanyian dan perbuatan dosa. Memelihara semua anggota tubuhnya dari penyelewengan. Ketahuilah yang demikian itu adalah takwa. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

10. Kesepuluh
Wanita muslimah selalu menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia,baik siang hari atau malamnya. Maka dia menjauhkan diri dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), mencaci dan hal lain yang tidak berguna.


Artinya: “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling mencari kesalahan dan bersaing dalam penawaran, namun jadilah hamba-hamba Allah yang bersatu” (Riwayat Muslim)

Artinya: “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran” (Mutaffaq Alaih)

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:12)


sumber : menjelma.com
Sufizone :  Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam
READ MORE - sufizone : Ciri-ciri Wanita Solehah (Wanita Idaman)

Judul diatas bukan dalam rangka memperingati hari Valentine yah, tapi karena ini malam minggu, dan jika sering main ke kebun saya pasti mengerti bahwa setiap malam minggu kebun saya akan penuh dengan cinta, dengan kasih sayang, dengan semua yang indah tentang hidup milik ALLAH, seberapapun sulitnya hidup, segunung masalah, sesamudera air mata, hidup tetap indah :) begitu kan? subhanallah, sungguh ALLAH pemilik segala cinta, yang maha memberi cinta dan maha mengambilnya :)

AADC [Ada Apa Dengan Cinta] adalah salah satu film waktu saya masih muda, dimainkan, ah bang Nico, hanya dia yang mampu membuat hati saya lumer, meleleh :) [terus De, terus aja mimpi, hati nurani saya nimbrung dan langsung protes :) hahaha] adalah cinta, kata yang tak pernah usang dari masa ke masa, dari zaman ke zaman dan memang tak ada habisnya ketika bicara soal cinta :) jutaan lagu tercipta, literan air mata jebol diujung mata karena rasa yang satu ini, puluhan orang bunuh diri karena cinta dan milyaran manusia terlahir dari rasa yang satu ini, puisi indah hadir juga karena rasa yang ALLAH ciptakan, rasa yang bernama cinta :)

Cinta itu buta, apa iya cinta itu buta? kalau cinta itu buta mustinya saya bisa aja jatuh cinta sama bebek, karena kan buta jadi gak bisa liat apakah itu Nicolas Saputra atau bebek kalo dua duanya ngomong cinta dengan bahasa wek wek wek :)bukan gitu kali De maksudnya, yah maksudnya tuh kalo lo suka sama seseorang mau dia pemarah, mau dia tukang godaan perempuan di kantornya, mau dia jarang shalat juga tetep aja cinta” salah kaprah :) iya, cinta menjadi buta karena kadang mengesampingkan logika padahal ALLAH memberi saya akal untuk mempertimbangkan apakah laki laki ini baik atau tidak, jadi dengan mencintai tanpa logika sama dengan tidak mensyukuri akal yang ALLAH titipkan, firasat yang ALLAH berikan :) ini salah satu kesalah cinta.

Guru mengaji saya bilang, “cinta bisa menjadi anugerah dan bisa jadi musibah”.

Cinta menjadi kenikmatan bila karena ALLAH dan dijalan-NYA (Al-Hubb Fillah wa Lillah). Cinta islami tidaklah mengenal batas ruang dan waktu serta melampaui batas fisik materi, buah yang tak mengenal musim dan tak mengenal status sosial, Cinta yang model ini tak jadi masalah jatuh kepada siapa dan seberapa besar asalkan karena ALLAH.

Cinta karena ALLAH itu tandanya gimana sih De? ketika saya mencintai seseorang kemudian sang jejaka dan saya terus menerus menambah cinta kepada ALLAH dari yang tadinya shalat sekedar shalat wajib menjadi plus plus shalat shalat sunah lainnya, ditambah dengan puasa, ditambah lagi dengan getol tahajud agar ALLAH semakin mencintai saya dan dia, maka inilah indikator cinta karena ALLAH, dan yang paling jitu faktor pengujinya adalah ketika sang kekasih diambil oleh ALLAH, JANGAN marah sama ALLAH terus jadi gak rajin shalat dan puasa lagi :)

Ingat loh bahwa ALLAH maha membolak balikan hati, bisa jadi sekarang cinta besok benci dan sebaliknya, jangan heran dengan rasa yang berubah ini, karena hati kita milik ALLAH… dibalik, diambil, diberi, semua untuk kebaikan kita.

Inilah rumus cinta suci segitiga [dengan sudut atas ALLAH, dan sudut kaki sama sisi adalah saya dan kekasih saya [emang punya De? nah itu masalahnya, gak ada yang mau saya sama :) ] iya, cinta segi tiga dalam Islam adalah cinta proporsional (equilibrium love) dengan santara cinta kepada ALLAH yang tidak menelantarkan cinta kepada manusia, dan cinta kepada manusia yang tidak melalaikan bahkan senantiasa dalam cinta kepada ALLAH yang telah memberi cinta.

Dan dua hal yang harus saya dipahami adalah bahwa cinta saya sebagai manusia ini hanya cinta yang berdiri diatas garis pengharapan, hanya dibatas garis pengharapan, karena hasil akhir adalah milik ALLAH, apakah ia akan menjadi jodoh saya atau bukan, saya hanya mampu berdiri diatas garis pengharapan, tidak lebih dari itu…

Yang kedua harus saya pahami adalah jodoh itu adalah hasil pencapaian saya dalam bertakwa kepada ALLAH, “lelaki baik untuk perempuan yang baik, pendusta akan berjodoh dengan pendusta, pemarah akan dijodohkan dengan pemarah dan seterusnya” sungguh ALLAH tidak pernah salah dalam memasangkan hamba hambaNYA, jadi buat yang sudah menikah jangan ngeluh ketika mendapatkan istri yang pemarah, ngaca deh, pasti karena sang lelaki pasti juga pemarah :) kan ALLAH tidak pernah salah memasangkan kan? intinya jika ingin mendapatkan yang baik, maka perbaiki diri terus, hingga baik menurut ALLAH dan pantas dipasangkan dengan lelaki berkalung surban :)

Jadi mungkin benar bahwa cinta itu buta tapi yang pasti cinta itu TIDAK TULI, karena ALLAH memberikan telinga kepada manusia untuk mendengar isyarat ALLAH, gunakan firasat, akal dan semua yang panca indera untuk melihat apakah dia laki laki yang baik, apakah dia perempuan yang solehah, apakah ini pasangan yang akan memberikan saya ticket ke surga sebelum surganya ALLAH dan surga yang sesungguhnya dari surganya ALLAH…

Jangan sampai hawa napsu mengendalikan rasa ini, dengan ngotot pokoknya maunya yang ini bukan yang itu, kalo ngotot mungkin akan diqobulkan oleh ALLAH, saya dapat si dia tanpa memperdulikan isyarat ALLAH dan kalau sudah begini jangan marah kalo pas nikah gak bahagia, kan ALLAH sudah kasih isyarat :)

Dan pemuda pemudi yang soleh dan terus mendekatkan diri kepada ALLAH akan memperoleh bonus berupa pasangan yang terindah, ketika akhirat menjadi tujuan maka dunia akan mengikuti jadi ketika rasa cinta itu datang, tanyakan kepada ALLAH melalui istikharah, libatkan ALLAH diawal, ditengah dan diakhir proses

“ya ALLAH, wahai pemilik napas jika dia yang terbaik untuk saya menurut ENGKAU maka …. ah gak berani berdoa, biar ALLAH yang memilihkan, tugas saya hanya memperbaiki diri terus dan terus untuk mendapat cinta ALLAH bukan cinta bang Nico :) hahahah :) jadi cinta itu memang buta tapi tidak tuli.

sumber : http://rinduku.wordpress.com

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : CINTA Itu Tuna Netra

Entah kenapa setiap kali malam minggu tiba jiwa romantis saya meronta ronta, merobek setiap relung hati dan mencoba mengerti mengapa malam ini terasa berbeda dari malam malam yang lain, malam minggu identik dengan keromantisan, identik dengan kasih sayang dan identik dengan cinta cintaan, mungkin karena malam minggu banyak yang mencurahkan kasih sayang, yang punya pacar ya pacaran, yang gak punya pacar yah cari gebetan, kalo kata teh Ike Nurjanah “ku terlena..” :)

Dan bisa dipastikan bagi sebagian orang malam minggu adalah malamnya setan berpesta pora dan setiap kita akan gampang sekali menjadi para hamba hamba setan dimalam panjang ini, mengikuti apa yang setan inginkan maksud saya, nauzubulahimnidzalik :)

Masih terngiang pertemuan terakhir dengan sahabat saya yang sedang jatuh cinta, ini katanya tentang cinta ”lo tahu gak De, rasanya hati gue berdegup, berbunga, gue gak bisa hidup kalau gak ada dia De, gak bisa makan dan minum, sehari gak ketemu rasa setahun, dia tempat curahan kasih sayang gue, sandaran jiwa gue De, enak banget rasanya De” aduh duh aduh, jujur saya dibuat bengong oleh ocehan kepompong kosong ini :)

Jika semua ungkapan sahabat saya ini benar, dimana ALLAH kira kira yah? ketika hati penuh oleh khayalan bersama jejaka yang bikin sang gadis meleleh apa masih ada tempat untuk berpikir tentang keberadaan ALLAH, saya jadi berpikir ketika cinta kepada manusia mengalahkan cinta kita kepada ALLAH apa gak jadi berhala tuh cinta.

Iya berhala, berhala itu apa sih? apa yang saya bayangkan ketika pertama kali mendengar kata berhala? bentuk benda menyerupai manusia, berkarakter, disembah, tapi jaman sekarang secara logika sudah gak bisa diterima untuk menyembah berhala berwujud bukan?

Ternyata setan juga mengikuti era digital loh, setan gak yerah tuh, ia dengan pasukannya kembali menggoda manusia dengan berhala yang tak terlihat tapi mampu membuat manusia takluk, menyembah, tak bisa hidup tanpa berhala ini, berhala ini bernama cinta dunia :( ehm… bisikannya lembut banget, pembenarannya juga banyak tuh, logika aja sih lewat lah.

Iya, berhala tak berwujud yang saya sembah itu berupa cinta sang kekasih yang saya kejar sampe lupa dzikir karena keenakan menyebut nyebut nama si yayang daripada menyebut nama ALLAH, berhala itu bernama harta yang saya kejar hingga takut zakat dan sedekah yang agak lebih karena takut gak cukup nih uang hingga akhir bulan plus hutang kartu kredit yang belum dibayar, berhala itu bernama jabatan, bernama pekerjaan, dengan alasan masih banyak kerjaan saya tunda waktu shalat saya … ya ALLAH ternyata saya masih menyembah berhala :(

Dada ini saya penuhi dengan keinginan duniawi, tanpa ada tempat untuk ALLAH, sehingga walaupun tiap hari saya bershahadat yang saya lakukan seakan-akan ALLAH tak ada, tak melihat. ALLAH saya jadikan nomor seratus sekian ketika saya akan mengambil keputusan bahkan saya tempatkan di wilayah yang tak penting lagi, tak ada shalat tahajud tuh waktu saya kalut, dan ketika saya butuh petunjuk bukan ALLAH yang saya tanya melalui shalat istikharah tapi saya tanya sahabat saya, kekasih saya, Ayah saya :( ALLAH hanya jadi alat pembenaran ketika saya memiliki hajat pribadi. ALLAH hanyalah suplemen agar keinginan nafsu menjadi sedikit halal, sah, lengkap, dan mantap. Secara tak sadar saya menafikan La Haula walaa Quwwata Illa Billah :(

Jika sudah begini, apa bedanya saya dengan Firaun, menjadi pengikut setan dan menampikan kehadiran ALLAH, berbuat seolah olah ALLAH tak melihat, tak mendengar … tak ada, padahal kita bershahadat.

Berhentilah menjadi Firaun di zaman modern ini, berhentilah menyembah berhala bernama cinta dunia…

Sekarang waktunya bertaubat, waktunya kembali kepada ALLAH, cintailah ALLAH melebihi apapun, isilah setiap hembusan napas dengan lafal “Subhanallah” dan rasakan bagaimana ALLAH hadir disetiap nadi yang berdetak, biarkan kekasih pergi jika mencintainya membuat kita melupakan ALLAH, bayarlah zakat, tanamkan dalam hati bahwa setiap kali kita gajian maka anak anak yatim dan fakir harus ikut gajian, 2,5% itu milik mereka jangan dipakai untuk bayar kartu kredit dulu baru kalo ada sisanya zakat, bayar zakat dulu dong nanti kalo secara kalkulator kurang maka ALLAH yang akan bantu mencukupi, masa mau jadi pemangkas harta fakir miskin, jangan jadi Firaun di era digital, takut sama ALLAH :)

Dan ALLAH TIDAK PERNAH INGKAR JANJI bukan? buktikan bahwa janji ALLAH itu benar ketika kita mengejar akhirat maka dunia akan mengikuti, jadi jangan dibalik dengan kejar dunia dulu kalo udah puas baru tobat mengikuti akhirat, kalau lagi asik mengejar dunia terus napas kita berhenti, gimana? :)

Ambil Al Quran diatas itu sebagai peta menempuh jalan kembali, ayo jangan ditunda lagi dan lagi, mau sampai kapan menyembah berhala :) saya sih gak mau.

*Duh Ade, tarik napas dulu ya sayang, jangan menggebu gebu gitu sih bicaranya? aduh maaf yah saya sedang menasehati diri saya sendiri sesungguhnya !! :) iya menasehati diri sendiri dulu *

sumber : http://rinduku.wordpress.com

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Ketika Cinta Menjadi Berhala

sufi1.jpg

Pengetahuan tentang keadaan mistik

hanya ada dengan pengalaman aktual,

akal budi manusia tidak bisa merumuskannya,

tidak bisa dicapai dengan pengakuan apa pun oleh deduksi,

sebagaimana juga dalam hal pengetahuan tentang rasa madu,

kegetiran dari kesabaran, kebahagiaan hubungan seksual,

cinta, nafsu, atau keinginan, semuanya tidak mungkin

bisa diketahui kecuali seseorang dengan tepat memenuhi

atau mengalaminya secara langsung.”

(Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah I : 31)

MAHABBAH (cinta), diturunkan dari kata hibbat, yang merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Sebutan hubb (cinta) diberikan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (hibb), karena cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih-benih merupakan asal mula tanaman. Karena, ketika benih-benih disebarkan di gurun pasir, mereka pun tersembunyi di bumi, dan hujan turun pada mereka dan matahari menyinari mereka dan dingin dan panas menyapu mereka, namun mereka tidak rusak oleh perubahan musim, tapi malah tumbuh dan berbunga dan memberikan buah. Demikian pula cinta, bilamana ia ada di hati, ia tidak rusak oleh kehadiran atau ketidakhadiran, oleh senang atau susah, oleh keterpisahan atau persatuan.

Yang lain mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari hubb, yang berarti “sebuah tempayan yang penuh dengan air yang tenang”, karena bilamana cinta berpadu di dalam hati dan memenuhi hati, di situ ada ruang lagi bagi pikiran tentang selain yang dicintai, sebagaimana Syibli mengatakan : “Cinta disebut mahabbat karena ia menghapus (tamhu) dari hati segala sesuatu kecuali yang dicintai. Menurut yang lainnya lagi, mahabbat diturunkan dari kata habb, jamak dari habbat, dan habbat adalah relung hati, di mana cinta bersemayam. Dalam hubungan ini, mahabbat disebut menurut tempat bersemayamnya, suatu prinsip yang banyak sekali contohnya dalam bahasa Arab.

Yang lain menurunkannya dari habab, “gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya pada waktu hujan lebat,” karena cinta adalah luapan hati yang merindukan persatuan dengan sang kekasih. Sebagaimana badan hidup karena ruh, begitu pula hati hidup karena cinta, dan cinta hidup karena melihat dan bersatu dengan sang kekasih. Yang lain juga menyatakan bahwa hubb adalah sebutan terhadap cinta murni, karena orang-orang Arab menyebut putih murni mata manusia habbat al-insan, seperti halnya mereka menyebut hitam murni (relung) hati habbat al-qalb. Yang terakhir ini tempat cinta, yang pertama pandangan (penglihatan). Oleh karena itu, hati dan mata adalah lawan-lawan dalam cinta. 1]

Cinta merupakan bagian dari rasa yang muncul dari dalam hati yang paling dalam dan paling rahasia (al-sirr). Hati yang paling dalam ini, selain disebut al-sirr disebut juga al-habb, titik terdalam di pusat hati. Cinta adalah sesuatu yang membuat hati menjadi berenergi dan dinamis. Cinta disebut hubb, karena cinta merupakan sumsum (lubaab) kehidupan. 2]

(Dikutip dari Buku saya : Keajaiban Cinta, Penerbit Hikmah, Grup Mizan)

Sumber : qitori

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Apa Itu Cinta?

SESUNGGUHNYA kecintaan seseorang kepada kebenaran dapat menambah keyakinan seseorang. Sebaliknya, keyakinan yang hanya didasarkan pada pengetahuan agama tidaklah memiliki pengaruh dengan bertambah atau berkurangnya pengetahuan yang dimiliki seseorang sebelumnya, karena bisa saja seseorang memiliki pengetahuan agama dan meyakininya, tetapi ia tidak menjalankan keyakinannya tersebut. Keyakinan dan iman hanya bisa bertambah jika seseorang dengan suka rela mengamalkannya demi mendukung keyakinannya tersebut dan tidak mengabaikannya untuk dijalaninya. Dengan kata lain, keyakinan semakin kuat dan utuh apabila seseorang mencintai iman dan agamanya, dan bukan sekadar mengetahuinya saja.

Ayat tersebut di atas berkenaan dengan keadaan Fir’aun dan pengikutnya yang sebenarnya di dalam hati mereka sudah ada benih-benih keyakinan kepada Nabi Musa as setelah mereka melihat mukjizat demi mukjizat yang diperlihatkan Musa as. Namun kezaliman dan keangkuhan (‘uluwwa) atau rasa tinggi hati mencegah diri mereka untuk berserah diri kepada Tuhan Musa.

Hal seperti ini pula yang terjadi pada Iblis. Keingkaran Iblis kepada perintah Tuhan bukan karena ia tidak memiliki ilmu atau pun keyakinan, tetapi keangkuhan dan egoismenya-lah yang menghalanginya untuk tunduk kepada perintah Tuhan. Jadi, seseorang bisa dikatakan beriman dan memiliki keyakinan hanya apabila ia menghormati, taat dan cinta kepada keyakinannya tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Ja’far al-Shadiq as, bahwa (suatu hari) Rasulullah saww bertanya kepada para sahabatnya, ”Iman yang bagaimanakah yang kokoh (autsaq) itu?”

Sebagian dari mereka menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya sajalah yang lebih mengetahui!”

Sebagiannya lagi menjawab,” Shalat!”

Dan sebagian lagi menjawab,”Zakat!”… (hingga tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab dengan benar).

Akhirnya Rasulullah saww pun bersabda, ”Aku katakan pada kalian, sesungguhnya iman yang kokoh itu adalah mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berwali (tawalla) kepada para wali Allah 1] dan berlepas diri (tabarra) dari musuh-musuh-Nya!” (al-Kulayni, Ushul al-Kafi, Kitab al-Iman wal Kufr, Bab al-Hubb fillahi wal bughdu fillahi, hadits no. 6, hal. 126)

(Dikutip dari Buku : Keajaiban Cinta, Quito R. Motinggo, Penerbit Hikmah, 2004, Jakarta)

Catatan Kaki :

1] Para wali Allah di sini adalah para Imam Ahlul Bait yang suci.

Sumber : qitori

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Yakin Tapi Tak Cinta

cinta-benci.jpg

Quito R. Motinggo

Keingkaran mendatangkan perang,
agama membawa kedamaian,
cinta mematahkan api dari perang dan damai.

~ Rumi 37]

Studi yang menyeluruh terhadap al-Qur’an dan Hadits akan memperlihatkan suatu pandangan Islam tentang cinta yang bersifat Ilahiyyah maupun yang bersifat humanis, yang memiliki kemuliaan dan nilai-nilai yang tinggi.

Di dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain diriwayatkan bahwa Imam Muhammad al-Baqir as telah berkata,”…agama itu adalah cinta dan sebaliknya cinta itu adalah agama.” 38]

Cinta memiliki tingkatan-tingkatan yang bergantung pada kelayakkan atau kesiapan seseorang untuk menerimanya. Dengan kata lain tingkatan ruhani seseorang bergantung dari kesiapan atau kelayakkannya untuk memperoleh cinta. Hal ini bisa dicontohkan, jika sebuah keadilan layak untuk dicintai maka sebuah ketidakadilan menjadi tidak layak untuk dicintai.

Atau contoh lainnya, jika seorang yang jujur layak untuk dicintai, maka seorang pendusta tentu saja tidak pantas untuk dicintai atau bahkan kita pantas membencinya!.

Seseorang bisa saja berdo’a untuk suatu yang bermanfaat bagi orang yang dicintainya. Diriwayatkan Imam al-Shadiq as pernah berkata, ”Merupakan tabiat hati (manusia) mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat buruk kepadanya.” 39]

Suatu waktu ditanyakan kepada Aba Abdillah (al-Shadiq) as tentang cinta dan benci, apakah ia merupakan bagian dari iman. Imam as menjawab, ”Bukankah iman itu tidak lain adalah cinta dan benci?” Lalu Imam as membacakan ayat (QS 49 : 7) : ”…tetapi Allah menjadikan kami cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada keingkaran dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus!40]

Insya Allah kita akan semakin memahami konsep ini lebih jauh jika kita mencoba untuk menyimak perkataan Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib as :

”Teman-temanmu ada tiga dan musuh-musuhmu juga ada 3. Adapun teman-temanmu ialah temanmu sendiri, teman dari temanmu dan musuh dari musuhmu. Sedangkan musuh-musuhmu ialah musuhmu sendiri, musuh temanmu dan teman musuhmu.” 41]

Mungkinkah kita memusuhi Zionis Israel, namun pada saat yang bersamaan kita bersahabat baik dengan Amerika Serikat yang jelas-jelas adalah bukan saja teman baik bagi Zionis Israel, tapi sudah merupakan sekutu yang memiliki tujuan yang sama : MENGHANCURKAN ISLAM. Jadi, adalah mustahil memusuhi Zionis Israel, namun pada saat yang bersamaan bersahabat dengan AS dan Barat. Namun kita telah melihat dengan jelas bagaimana Kerajaan Saudi Arabia, Kelompok Fatah, dan pemimpin-pemimpin sekuler Libanon menjadikan AS dan Barat sebagai sahabat karib mereka.! Perhatikan kembali perkataan Imam Ali as di atas, camkan dan hafalkan. Insya Allah di waktu mendatang kata-kata hikmah ini akan bermanfaat bagi Anda.

MUNGKINKAH KITA BISA MENCINTAI SAHABAT KITA, DAN PADA SAAT YANG SAMA MENCINTAI MUSUH SAHABAT KITA?
Kita menyadari bahwa adalah tidak mungkin kita bersahabat dengan musuh dari sahabat kita. Perbuatan kita seperti itu bisa menggelincirkan kita ke bentuk pengkhianatan.

Imam ash-Shadiq as berkata, “Bila seseorang menyayangi orang yang ingkar berarti ia telah membenci Allah. Dan siapa yang membenci orang yang ingkar berarti ia mencintai Allah.” kemudian Imam menambahkan : “Kawan musuh Allah adalah musuh Allah.” 42]

Cobalah Anda meneropong ke lubuk hati Anda yang terdalam, apakah hati Anda tidak merasakan kegelisahan, ketika Anda berteman dengan teman Anda dan pada saat yang bersamaan Anda pun berteman dengan musuh teman Anda? Jika hati Anda tidak merasakan kegelisahan maka bisa jadi Anda adalah seorang hipokrit alias munafik.

Di dalam perbandingan dengan keyakinan-keyakinan agama lain, ada satu aspek cinta di dalam Islam yang senantiasa mempertimbangkan bentuk kebencian yang merupakan bagian dari cinta itu sendiri. Islam bahkan mengajarkan kepada kaum muslimin untuk mencintai manusia dan menyayangi mereka dan menjalin hubungan dengan mereka walau pun mereka tidak percaya kepada Islam atau bahkan kepada Tuhan sekali pun.

Seseorang bisa saja memiliki banyak teman yang mencintainya, dan pada saat yang sama ada orang yang membencinya; apakah ia mengingini atau tidak. Kita tahu bahwa banyak orang-orang baik di dalam masyarakat kita, tetapi tidak dapat pula dipungkiri bahwa tidak sedikit orang-orang yang berkarakter buruk ada di sana. Ada 2 kutub yang saling menarik dan saling menolak. Orang-orang baik menarik orang-orang yang sejenisnya, dan menolak orang yang berkarakter buruk dan begitu pun sebaliknya.

Alasan kemiripan dan keserupaan inilah yang menjadi landasan cinta dan kasih sayang antar manusia. 43]

Bagaimana pun, tidaklah mungkin bagi seseorang yang memiliki prinsip di dalam hidupnya dan mengabdikan hidupnya untuk menyadari nilai-nilai suci untuk acuh tidak acuh terhadap orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan amoral, atau melakukan kejahatan di tengah-tengah masyarakat.

Fudlail bin Yasar bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Imam Ja’far) as, tentang cinta dan benci, dari bagian iman yang manakah keduanya itu? Imam as menjawab,”Bukankah iman itu tidak lain cinta dan benci?!” 44]

Ada suatu kecenderungan pada sebagian orang yang berpandangan dan bersikap tanpa kebencian sedikit pun. Orang-orang ini menganggap pemikiran dan pola pandang seperti ini adalah benar dan mulia, sehingga mereka menganggap semua orang adalah sahabat dan teman-teman mereka, tak terkecuali penjahat masyarakat sekali pun.

Sebaliknya Islam mengajarkan kepada manusia untuk mencintai dan menyayangi manusia seluruhnya secara umum, namun dalam saat yang sama tidak mentolerir orang-orang yang melakukan tindakan-indakan amoral atau bahkan kejahatan sosial, seperti yang dilakukan oleh para koruptor, manipulator, bahkan para penindas.

Kita tidak bisa mentolerir apa yang telah dilakukan oleh Hitler dengan Nazinya dan pada saat yang sama kita juga tidak bisa acuh tak acuh terhadap apa yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap warga Palestina. Kita juga tidak menyukai tindakan-tindakan kejam diktator Saddam Husein, namun kita juga membenci tindakan kriminal dan teror presiden Amerika Serikat, Geoge W. Bush yang lewat tentara sekutunya membantai banyak warga Irak dan memperkosa kaum wanita Irak.

Apakah fitrah dan hati nurani kita bisa mencintai tentara-tentara Israel yang membantai orang-orang Palestina dan pada waktu yang sama pula kita menyayangi orang-orang Palestina yang tertindas itu? Tentu saja tidak!

Oleh karena itu Islam bukan hanya agama cinta, tetapi pada saat yang sama Islam juga agama benci!

Siapapun yang sehat akalnya pasti akan membenci kekotoran, ketidakjujuran, kebodohan, pengkhianatan, kezaliman, penipuan, kemunafikan, kebebalan, kejahatan dan yang semacam itu. Hanya orang-orang yang tidak memiliki akal sehat saja yang berbuat sebaliknya.

Rasulullah saww bersabda kepada para sahabatnya, “Tiang iman yang mana yang paling kokoh?”

Mereka para sahabat menjawab,“Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu”

Sebagian dari mereka berkata,”Shalat!”

Sebagian lain menjawab,“Puasa!”

Sebagian lainnya menjawab,“Haji dan Umrah!”

Dan sebagian lainnya menjawab,“Jihad!”

Namun Rasul saww menjawab,“Seluruh jawaban yang kamu sebutkan memiliki keistimewaan. Namun jawaban yang tepat bukanlah itu. Tetapi tiang iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, berwali kepada para wali Allah (tawalla) dan berlepas diri dari para musuh Allah (tabarra’)” 45]

Oleh karena itu pula Islam memerintahkan juga kepada kita untuk menjauhi orang-orang alim yang menjual murah ayat-ayat suci, mereka yang telah dibeli oleh dajjal-dajjal dan merelakan dirinya menjadi pesan sponsor para penindas dan kaum mustakbarin.

Tentu saja Anda yang berhati bersih tidak bisa bersimpati dan mencintai orang-orang seperti ini. Rasulullah saww telah bersabda, ”Wahai hamba Allah! Cintailah (seseorang) karena Allah, dan bencilah karena-Nya. Tolonglah (seseorang) karena Allah dan perangilah karena-Nya. Sesungguhnya seseorang tidak bakal mendapatkan pertolongan Allah kecuali dengan melakukannya. Dan seseorang tidak akan mengenyam rasa keimanan kendati shalat dan puasanya bertumpuk hingga ia berbuat demikian…46]

CINTA DAN BENCI YANG DIDASARI AGAMA
Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Barangsiapa yang tidak mencintai karena agama dan membenci karena agama maka ia tidak mempunyai agama.” 47]

Cinta yang menjadikan orang yang mengalaminya tercerahkan adalah cinta yang melibatkan kebaikan dan menarik umat manusia serta tidak dibatasi oleh sekat-sekat yang bersifat formalitas, baik itu berupa warna kulit, bangsa, suku bahkan “agama” sekali pun.

Karena agama yang sesungguhnya adalah agama yang memancarkan cahaya cinta, dalam bentuknya yang universal. Sebaliknya agama yang dibatasi oleh bentuk-bentuk harfiyah dan formal tidak akan mungkin memancarkan cahaya cinta walau hanya sebersitan saja.

“Agama” kaum formalis inilah yang sering memunculkan bencana ketimbang kedamaian. Tetapi tentunya juga bukan kedamaian yang membius dan menerlenakan seraya mengabaikan aspek-aspek keadilan.

Perdamaian (kedamaian) itu indah, tetapi keadilan itu lebih penting dan lebih indah!,”demikian telah dikatakan oleh Rahbar Sayyid Ali Khamane’i di dalam pidatonya di depan Konferensi Gerakan Non Blok di Harare, Zimbabwe, tgl 1-6 September 1986.

CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH, MERUPAKAN TIANG AGAMA YANG PALING KOKOH
Imam ash-Shadiq as berkata, ”Tiang Iman yang paling teguh adalah cinta karena Allah dan benci karena-Nya, memberi karena-Nya, serta menahan untuk tidak memberi karena-Nya.” 48]

Rasulullah saww bersabda, ”Kasih sayang seorang mu’min kepada seorang mu’min yang lain adalah salah satu cabang iman. Ketahuilah! Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan pemberian karena Allah maka ia tergolong orang-orang pilihan Tuhan.” 49]

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, ”Ketika Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, seorang penyeru berteriak dan didengar manusia: “Dimana orang-orang yang saling mengasihi karena Allah?” Kemudian terlihat orang-orang yang muncul dan bangun dari kerumunan manusia itu. Dan dikatakan kepada mereka : “Pergilah ke Surga tanpa Hisab (perhitungan)” Setelah itu para malaikat menemui mereka dan berkata : “Mau ke mana kalian pergi?” Mereka menjawab : “Ke surga tanpa hisab!” Para malaikat itu bertanya : “Golongan manusia yang mana kalian ini?” Mereka menjawab : “Kamilah orang-orang yang saling mencintai karena Allah” Para malaikat itu bertanya lagi : “Lalu perbuatan apa yang kalian lakukan?” Mereka menjawab : “Kami cinta karena Allah dan benci karena Allah!” Para malaikat itu pun berkata lagi : “Amatlah baik ganjaran orang-orang yang beramal (seperti kalian)!” 50]

Imam al-Baqir as mengatakan, “Iman itu adalah cinta dan benci.” 51]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :
37. Jalaluddin Rumi, Diwan i Syams 1331
38. Tafsir Nur al-Tsaqalain 5 : 285.
39. Wasail al-Syi’ah 16 : 181.
40. Al-Kulayni, al-Kafi 2 : 125.
41. Mutiara Nahjul Balaghah hal. 133.
42. Allamah Baqir al-Majilisi, Bihar al-Anwar 74 : 360.
43. Mahnaz Heydarpoor, Perspectives on the Concept of Love in Islam.
44. Al-Kafi, 2 : 125
45. Ibid.
46. Bihar al-Anwar 74 : 399
47. Ushul al-Kafi 2 : 127.
48. Bihar al-Anwar 74 : 354
49. Ushul al-Kafi 2 : 125.
50. Ibid.
51. Bihar al-Anwar 78 : 175

Sumber : qitori

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Iman Itu : Cinta Dan Benci

Quito R. Motinggo

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Ada pun alasan Allah mewajibkan puasa adalah untuk menyamakan si kaya dengan si fakir. Karena sesungguhnya si kaya tidak (pernah) merasakan nestapa lapar (sebagaimana yang dirasakan oleh si fakir), yang karenanya si kaya dapat mengasihi si fakir. Karena setiap si kaya menginginkan sesuatu, maka dia dapat memenuhi keinginannya itu. Maka dengan puasa Allah ‘Azza wa Jalla hendak menempatkan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya turut merasakan nestapanya lapar dan kepedihan, yang karenanya (diharapkan) ia menaruh belas kasih kepada orang yang lemah dan mengasihi orang yang lapar.” 1]

HIKMAH RASA LAPAR PUASA
Salah satu sasaran awal dari puasa adalah lapar. Lapar merupakan salah satu keadaan umum yang dimiliki oleh kaum dhuafa dan orang-orang fakir. Kefakiran atau kemiskinan materi telah mengakibatkan mereka tak mampu membeli sesuatu yang dapat menghilangkan rasa lapar mereka.

Pada bulan Ramadhan yang suci ini, Allah Swt berkehendak menjadikan si kaya ikut merasakan derita lapar sebagaimana yang dialami saudaranya yang fakir. Dari rasa lapar itulah si kaya juga turut merasakan penderitaan dan kepedihannya. Secara bertahap diharapkan si kaya mampu berempati kepada orang-orang miskin yang sudah sedemikian akrab dengan rasa lapar, sampai akhirnya tumbuh rasa welas asih di dalam hati si kaya. Inilah yang hendak dicapai dari puasa.

Jika lapar adalah sasaran awal puasa, maka welas asih merupakan sasaran akhirnya. Dengan welas asih inilah si kaya akan terdorong untuk melakukan aksi menolong orang-orang yang lemah dan papa.

Pada saat Rasulullah Saw melakukan Mi’raj, beliau bertanya kepada Allah Swt, “Wahai Tuhan, apakah yang diwariskan dari puasa?”
Allah SWT menjawab, “Puasa itu mewariskan hikmah, dan hikmah mewariskan ma’rifat’ lalu ma’rifat itu mewariskan keyakinan. Maka apabila seorang hamba telah memiliki keyakinan niscaya ia tidak lagi peduli apakah ia bangun di pagi hari dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang!2]

Rasa lapar yang disebabkan dari puasa dapat membangunkan hati yang tertidur dan membangkitkan jiwa yang lalai. Rasa lapar bisa mengguncang kesadran ruhani seseorang. Mata batin orang yang lapar karena puasa akan terbuka lebar, hatinya pun terjaga, pandangan ruhaninya menjadi tajam sehingga mampu mencerna rahasia-rahasia kehidupan serta tanda-tanda zaman. Ia menjadi tercerdaskan dan mampu mencerna ibrah (pelajaran hidup), dan akhirnya ia sanggup mencerap hikmah-hikmah dari Tuhannya.

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” 3] Begitulah Nabi Ibrahim berdoa kepada Kekasihnya, Rabbul ‘Alamin.

Lapar juga mengakibatkan tubuh menjadi ringan dalam melakukan ibadah-ibadah ritualnya seperti berzikir, iktikaf dan membaca al-Quran, serta gesit membantu orang-orang yang miskin dan fakir. Dan buah dari semua aktifitasnya itu adalah CINTA TUHAN. Mereka inilah kekasih-kekasih Tuhan, sebagaimana di dalam hadis Mi’raj disebutkan sifat-sifat wali-wali Allah, “Perut mereka tipis dari makanan halal.” 4]

Para kekasih Tuhan adalah orang-orang yang sengaja berlapar diri dan hati mereka dipenuhi cinta kepada sesamanya.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah pun tiada mengasihinya!5]

Dalam riwayat lainnya, beliau Saw besabda, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, tidaklah masuk surga kecuali orang yang memiliki rasa kasih sayang.” Para sahabat menyahut, “Kami semua memiliki rasa kasih sayang.”

Maka Nabi Saw berujar, “Bukan begitu (maksudku), kalian bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki rasa kasih sayang jika kasih sayang kalian juga dilimpahkan kepada seluruh umat manusia dan semesta alam.” 6]

Ini dkarenakan ajaran-ajaran Islam berlandaskan rahmat (kasih sayang) seperti hadis lainnya Nabi Saw bersabda, “Allah Yang Maha Rahman mengasihi dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang, karena itu sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya mereka yang di langit juga akan menyayangimu!7]

Inilah tujuan hakiki dari puasa, CINTA TUHAN, dan Anda takkan dapat meraih cinta-Nya sebelum Anda sanggup MENCINTAI sesama manusia. 8]
Jadi, puasa mesti membuahkan kepekaan jiwa, kehalusan rasa sosial dan cinta universal!

Ketahuilah!
Cinta yang sesungguhnya adalah
gambaran hidup yang pahit
berujung manis
karena semua dasar cinta tak lain
adalah kebaikan moral!

~ Rumi 9]

Catatan Kaki :
[1] Ayatullah Ray Syahri, Mizan al-Hikmah 5:465;
- Allamah Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 96:371;
- Ibid 6:97;
[2] Bihar al-Anwar 77:27
[3] QS Al-Syu’ara [26] ayat 83
[4] Bihar al-Anwar 77:22
[5] Muttaqi al-Hind, Kanz al-‘Ummal hadis no. 5972.
[6] Kanz al-‘Ummal, hadis no. 5989.
[7] Bihar al-Anwar 77 : 167
[8] Ingat! Mencintai bukan mengasihani.
[9] Matsnawi I : 2580.

Sumber : qitori

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Puasa , Lapar dan Cinta

karbala12b.jpg

Di sini ada orang yang telah minum lautan,
dan lidahnya masih terus haus!
~ Abu Yazid al-Busthami, Futuhat al-Makkiyyah 2 : 111

MANIFESTASI CINTA
Syekh al-Akbar Muhyiddin Ibn Arabi memandang manifestasi Cinta dalam dua cara.
Pertama, bagi Tuhan, Cinta menyebar secara absolut kepada segala sesuatu di dalam ciptaan, tanpa batasan, karena ciptaan secara esensial adalah indah dan cantik – baik yang kita sebut indah maupun yang jelek. Tuhan cinta untuk dikenal (ahbabtu an a’rif), dan peluang untuk pengetahuan ini secara khusus diberikan kepada manusia, yang secara potensial adalah wadah manifestasi cinta yang paling sempurna.

Yang kedua, adalah penyingkapan permanen yang tidak akan pernah berakhir, dan itu adalah maqam tertinggi di mana Allah disingkapkan kepada para hamba-Nya yang mengenal-Nya – ini (disebut) wahyu rasa (dzauq). Sedangkan untuk penyingkapan yang memiliki akhir, ia (sebut) kepuasan (riyy) dan termasuk milik orang yang terbatas, karena tujuan mereka minum adalah memuaskan dahaga.

Sedangkan untuk orang-orang yang lapang (kemampuannya untuk menerima), mereka tidak pernah mencapai kepuasan dalam minum, seperti Abu Yazid dan orang-orang seperti dia.

Barang siapa yang membatasi cinta ia tidak mengetahuinya! Barang siapa yang tidak merasakannya dengan meminum dia tidak mengetahuinya!

Barang siapa yang berkata, “Aku telah diberitahu akan hal itu” tidak mengetahuinya! Cinta adalah minum tanpa akhir! Salah seorang dari orang yang terhijab berkata, “Aku telah minum suatu minuman, setelah itu aku tidak pernah haus,” dan Abu Yazid menjawabnya, “Di sini ada orang yang telah minum lautan, dan lidahnya masih terus haus!” inilah tepatnya yang telah kita singgung. 116]

PENYINGKAPAN KEINDAHAN (AL JAMAL) DAN KEAGUNGAN (AL JALAL) TUHAN
Ruzbihan di dalam kitabnya, Masyrah al-Arwah mengatakan, “Penyingkapan keindahan (al-Jamal) adalah adalah tempat di mana segenap ruh tercerap melalui kasih sayang, kerinduan, dan cinta. Melaluinya, kaum ‘arif diberi kemampuan melakukan perjalanan menembus sifat-sifat itu dan tetap berada dalam visi keabadian dan kebakaan…

Penyingkapan keagungan (al-Jalal) adalah kedudukkan dimana orang-orang terpilih dikuasai oleh rasa takut, kengerian, keterkesimaan, dan ketakziman. 117]

Apa pun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),
itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah
sebuah rahasia yang tak terungkapkan.

(Rumi, Diwan i Syams 2988)

Laa hawla wa laa quwata illa billah.

Sumber : qitori

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Manifestasi Cinta

roseCinta merupakan elemen terpenting bagi setiap keberadaan, dan ia adalah cahaya yang paling terang dan kekuatan yang terbesar. Mampu membalas serta mengalahkan semua selainnya.

Cinta mengangkat tiap-tiap jiwa yang menyerapnya, dan mempersiapkan jiwa untuk melakukan perjalanan menuju kepada keabadian. Jiwa-jiwa yang telah mampu menghubungi keabadian melalui cinta mendesak diri mereka sendiri untuk mengilhami semua jiwa lainnya dengan apa yang telah mereka peroleh dari alam keabadian.

Mereka (yang telah mencerap cahaya cinta) mendedikasikan hidup mereka pada tugas suci ini, demi mengemban segala macam kesukaran dan penderitaan.

Sama halnya ketika mereka melafalkan “cinta” dengan nafas terakhir mereka, mereka juga akan bernafaskan “cinta” saat tibanya Hari Kiamat. Tanpa cinta, jiwa mustahil dapat diangkat ke atas cakrawala kesempurnaan manusia.

Sekalipun jiwa hidup beratus-ratus atau bahkan beribu-ribu tahun, mereka takkan bisa membantu naik ke atas alur kesempurnaan. Jiwa yang kehilangan cinta, terjerat dalam jaring egoisme, takkan mampu mencintai orang lain dan mati tanpa kesadaran akan cinta yang ditanam di setiap dasar eksistensi.

Seorang anak diterima dengan cinta ketika ia dilahirkan, dan tumbuh dalam suatu atmosfir hangat yang terdiri atas jiwa-jiwa penuh kasih sayang. Walaupun jika anak-anak itu tidak menikmati cinta dengan kadar yang sama pada tahap-tahap hidup mereka kemudian, mereka selalu rindu akan cinta dan mengejarnya sepanjang hidup mereka.

Ada inspirasi-inspirasi cinta pada wajah matahari; air menguap, naik ke arah inspirasi-inspirasi itu, dan setelah itu, air dipadatkan menjadi titik-titik air yang menjulang terus ke atas, titik-titik air pun jatuh ke bumi dengan penuh kegembiraan dengan sayap-sayap cinta.

Kemudian, ribuan bebungaan merekah dengan cinta, menawarkan senyum kepada lingkungan mereka. Tetesan embun di atas dedaunan bekerjap dengan cinta dan bersinar-sinar menghibur.

Domba-domba dan anak-anaknya mengembik dan melompat-lompat dengan cinta, dan burung-burung serta anak ayam bersiul dengan cinta dan berpadu menyanyikan senandung cinta.

Setiap keberadaan (maujud) mengambil bagian dalam mega orkestra cinta di semesta raya ini dengan masing-masing simponi yang mereka miliki dan mencoba mendemonstrasikannya, dengan kehendak bebas atau menembus wataknya, sebuah aspek kedalaman cinta yang kita temukan dalam eksistensi.

Cinta berurat akar di dalam jiwa manusia, sangat dalam, yang banyak orang meninggalkan rumah mereka demi dia. Banyak keluarga yang rusak dan, di setiap sudut, seorang Majnun mengerang karena cinta, merindukan Layla.[1]

Sebagaimana mereka yang belum mampu menyibak cinta yang tiada terpisahkan dengan keberadaan mereka, mereka menghormatinya seperti manifestasi cinta sebagai kegilaan!

Mengutamakan orang lain berarti mengagungkan perasaan manusia, dan sumbernya adalah cinta. Siapapun yang memberikan bagian yang besar dari cinta ini berarti dia adalah seorang pahlawan kemanusiaan yang terbesar.

Orang-orang seperti ini telah mampu menumbangkan segala rasa benci dan dendam di dalam diri mereka. Seperti itulah para pahlawan cinta menjalankan hidup mereka bahkan setelah kematian mereka.

Jiwa-jiwa mulia ini, yang setiap hari menyalakan obor cinta yang baru di dalam dunia batiniah mereka dan yang membuat hati mereka menjadi sumber cinta dan azas pengutamaan orang lain, senantiasa disambut dan dicintai oleh banyak orang, dan telah menerima kebenaran menuju kehidupan abadi dari Yang Maha Bijaksana.

Kematian, bahkan Hari Kiamat, takkan mampu menghilangkan jejak mereka (para pencinta). Seorang ibu yang mati demi anaknya merupakan seorang pahlawan kasih sayang; individu-individu yang mendedikasikan hidup mereka untuk kebahagiaan orang lain layak memperoleh gelar “pengikut setia yang gagah berani,” dan mereka yang hidup dan mati demi kemanusiaan mesti diperingati sebagai monumen keabadian yang ditahtakan di hati semua manusia.

Di dalam tangan pahlawan ini, cinta menjadi suatu obat yang mengandung kekuatan magis untuk mengalahkan setiap rintangan dan sebuah kunci untuk membuka setiap pintu.

Mereka yang menguasai obat dan kunci seperti itu, cepat atau lambat dapat membuka gerbang semua bagian-bagian dunia dan menyebarkan keharuman perdamaian di mana-mana, menggunakan “pedupaan” cinta di tangan mereka.

Jalan yang paling langsung masuk ke jantung hati manusia adalah jalan cinta, itulah jalan para nabi. Mereka yang mengikutinya jarang ditolak; sekalipun mereka ditolak oleh beberapa orang, mereka disambut oleh ribuan orang.

Suatu waktu mereka disambut melalui cinta, tak ada yang dapat mencegah mereka dari pencapaian tujuan akhir mereka, ridha Tuhan. Betapa bahagia dan sejahtera mereka yang mengikuti bimbingan cinta.

Di sisi lain, betapa sial, mereka yang hidup dibimbing oleh “ketulian dan kebisuan” tanpa kesadaran cinta yang halus dan dalam di lubuk jiwa mereka!

Wahai Tuhan Yang Mahaagung! Hari ini ketika kebencian dan dendam sudah dibungkus di mana-mana

seperti kegelapan yang berlapis-lapis,

kita telah mengambil tempat perlindungan

di dalam Cinta-Mu Yang Tanpa Batas dan

memohon di Pintu-Mu,

memohon agar Engkau mengisi Cinta

dan Welas Asih ke dalam setiap hati para hamba-Mu

yang telah menzalimi diri mereka sendiri. ——————————————————————————–

Diterjemahkan oleh Quito Riantori Motinggo dari artikel : * Fethullah Gullen, Love & Mercy. This article was written in March 1987 and originally appeared in Yitirilmiş Cennete Doğru, Nil, Izmir, 1988, and in its English edtition Towards the Lost Paradise, Kaynak, Izmir, 1998, 2nd Edition, pp. 43-45. [1] Layla and Majnun are legendary lovers in Eastern literature.

Sumber : qitori

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc

READ MORE - sufizone : Cinta dan Welas-Asih

Abû Sufyân berkata, “Cinta adalah mengikuti Rasulullah saw.” Yang lain berkata, “Cinta adalah tenggelam selamanya dalam zikir mengingat Allah.” Yang lain lagi berkata, “Cinta adalah mengutamakan Sang Kekasih.” Sebagian yang lain lagi berkata, “Cinta adalah kebencian terhadap keabadian hidup di dunia.”
Itu semua merupakan ungkapan yang merujuk pada buah dari cinta. Mengenai substansi dari cinta itu sendiri, mereka cenderung tutup mulut dan tidak berani melukiskan dengan kata-kata. Salah seorang sufi berkata, “Hakikat makna cinta bersumber dari Sang Kekasih. Hati tak mampu menangkapny. Lidah juga tak mampu mengungkapkannya.”
Al-Junayd berkata, “Allah mengharamkan cinta bagi orang yang di hatinya masih terdapat ketergantungan kepada selain Dia.” Masih kata al-Junayd, “Cinta adalah kesetiaan. Jika kesetiaan telah hilang, maka hilanglah rasa cinta.” Dzû al-Nûn al-Mishrî berkata, “Katakan kepada orang yang menunjukkan rasa cinta kepada Allah Swt., ‘Hati-hati, jangan sampai tunduk kepada selain Allah.’”
Seseorang berkata kepada al-Syiblî, “Jelaskan kepada kami siapakah sebenarnya orang yang arif itu? Siapa pula yang disebut sang pencinta?” Ia menjawab, “Orang arif adalah orang yang apabila berbicara, maka celaka dan binasalah ia. Pencinta adalah yang jika tak bicara, maka celaka dan binasalah ia.” Ia juga berkata dalam senandung syair berikut:
Wahai Tuan Yang Mulia
Cinta-Mu menancap di pangkuan hamba
Wahai Yang mengangkat kantuk dari pelupuk mata
Engkau Mahatahu apa yang terlintas dalam dada
Yang lain juga bersyair:
Aku salut pada siapa yang berkata,
“Kuingat Karibku senantiasa”
Pernahkah aku melupakan Dia?
Aku akan ingat apa yang kulupa!

Aku telah mati
Begitu mengingat-Mu hidup kembali
Kalau bukan karena baik sangka
Mana mungkin aku kembali bernyawa?

Aku hidup karena secercah harapan
Aku mati karena segudang kerinduan
Berapa kali sudah aku hidup karena-Mu
Berapa kali sudah aku mati karena-Mu

Kuteguk cinta, gelas demi gelas
Tak habis-habis, tak puas-puas
Semoga membayangkan Dia
Dia hadir di depan mata
Sebab jika tak kulihat Dia
Pasti aku menjadi buta
Suatu hari Râbi‘ah al-‘Adawiyyah berkata, “Siapa yang dapat menunjukkan saya bertemu Sang Kekasih?” Pelayannya menjawab, “Sang Kekasih bersama kita, tetapi dunia menghalangi kita bertemu dengan-Nya.”
Ibn al-Jalâ’ rahimahu Allâh bercerita, “Allah mewahyukan kepada ‘Îsâ, ‘Sungguh, jika Aku menampakkan diri dalam rahasia hati seorang hamba, maka pasti tak akan Kutemukan lagi rasa cinta kepada dunia dan akhirat dalam hatinya. Sebab, Aku sudah memadatinya dengan cinta-Ku dan Aku kepung dia dengan penjagaan-Ku.’”
Suatu hari Samnûn berbicara tentang cinta. Tiba-tiba seekor burung hinggap di depannya, mematuk-matukkan paruhnya ke tanah terus-menerus hingga berdarah, dan akhirnya terkapar mati.
Ibrâhîm ibn Adham berkata, “Tuhanku, Engkau tahu bahwa surga tak sebanding dengan selembar sayap nyamuk pun bagiku di sisi cinta yang Engkau anugerahkan padaku, Engkau bahagiakan aku dengan zikir menyebut-Mu, dan Engkau lapangkan aku untuk memikirkan kebesaran-Mu.”
Al-Sarrî rahimahu Allâh berkata, “Siapa yang mencintai Allah, maka ia pasti hidup. Siapa mencintai dunia, maka ia pasti terkebiri. Orang bodoh, pagi dan sore, senantiasa lalai. Orang berakal senantiasa memeriksa aib dan kekurangannya.”
Râbi‘ah suatu hari ditanya, “Bagaimana cintamu kepada Rasulullah saw.?” Ia menjawab, “Demi Allah, aku sangat mencintai beliau. Namun, cintaku kepada Sang Khaliq telah menyita seluruh kesibukanku untuk mencintai makhluk.”
Nabi ‘Îsâ pernah ditanya mengenai amal paling utama di sisi Allah. Beliau menjawab, “Rida dan cinta kepada Allah.”
Abû Yazîd berkata, “Seorang pencinta adalah orang yang tidak mencintai dunia atau akhirat. Ia hanya mencintai Sang Tuan, hanya Sang Tuan.”
Al-Syiblî berkata, “Cinta itu nikmatnya begitu dahsyat, namun keagungannya begitu membigungkan.”
Konon, cinta tidak mementingkan diri sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun dalam diri, dari diri, untuk diri. Cinta adalah keakraban hati dengan Sang Kekasih, diliputi perasaan senang dan bahagia.
Al-Khawwâsh pernah berkata, “Cinta adalah menghapus segala keinginan, juga membakar seluruh sifat dan kebutuhan.”
Sahl pernah ditanya tentang cinta. Ia menjawab, “Belas kasih Allah dalam hati hamba-Nya, agar ia dapat menyaksikan-Nya setelah memahami maksud dan keinginan dari-Nya.”
Ada yang mengatakan bahwa pola interaksi yang dijadikan landasan oleh seorang pencinta Allah terdiri dari empat peringkat: cinta, takut, malu, dan takzim. Peringkat paling utama adalah peringkat takzim dan cinta. Mengapa? Karena dua peringkat ini akan terus bertahan sampai ke surga bersama seluruh penghuninya. Dua peringkat lainnya—takut dan malu—tersingkirkan dari mereka.
Harm ibn Hayyân berkata, “Ketika mengenal Tuhannya, seorang mukmin pasti akan mencintai-Nya. Ketika sudah mencintai-Nya, ia pasti akan datang menghadap kepada-Nya. Ketika ia merasakan manisnya menghadap kepada-Nya, ia pasti tidak memandang dunia dengan mata bernafsu dan tidak memandang akhirat dengan mata berbunga-bunga. Memang, di dunia begitu meletihkan, tetapi di akhirat begitu menyenangkan.”
‘Abd Allâh ibn Muhammad bertutur, “Aku pernah mendengar seorang wanita ahli ibadah berkata dalam isak tangis dan air mata bercucuran di pipinya, ‘Demi Allah, aku sudah bosan hidup. Andai maut diperjualbelikan, pasti sudah kubeli, demi cinta dan kerinduanku bertemu dengan-Nya.’ Lalu aku bertanya, ‘Kamu begitu percaya dengan amalmu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, aku hanya mencintai-Nya, berbaik sangka pada-Nya. Kubiarkan Dia menyiksaku, yang penting aku mencintai-Nya!’”
Allah mewahyukan kepada Dâwud as., “Kalau saja orang yang merenungkan Aku itu tahu, betapa Aku menunggu kedatangan mereka, betapa Aku selalu menemani mereka, dan betapa Aku rindu untuk menyingkirkan kemaksiatan dari mereka, maka pastilah mereka akan mati karena rindu bertemu Aku. Tulang-belulang mereka juga pasti terpotong-potong karena kecintaan mereka kepada-Ku. Wahai Dâwud, inilah kehendak-Ku terhadap orang-orang yang merenungkan Aku. Bayangkan, bagaimana kehendak-Ku kepada orang-orang yang menghadap Aku? Wahai Dâwud, sesuatu yang paling aku butuhkan dari seorang hamba adalah ketika ia tak lagi membutuhkan Aku (untuk memenuhi keinginannya itu). Sesuatu yang paling aku sayangi pada hambaku adalah ketika ia merenungkan Aku. Dan, sesuatu yang paling agung bagiku adalah ketika ia kembali kepada-Ku.”
Abû Khâlid al-Shaffâr bercerita, “Salah seorang nabi bertemu dengan seorang ahli ibadah. Ia berkata, ‘Kalian, wahai hamba-hamba Allah, telah melakukan amal yang tidak pernah dilakukan kami para nabi. Kalian melakukan amal karena takut dan berharap sesuatu, sementara kami melakukan amal karena cinta dan kerinduan.’”
Al-Syiblî rahimahu Allâh bertutur, “Allah mewahyukan kepada Dâwud, ‘Wahai Dâwud, Aku hanya ingat kepada orang yang mengingat-Ku. Surga-Ku hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang taat. Aku hanya berkunjung kepada orang-orang yang merindukan Aku. Secara khusus, Aku adalah milik orang-orang yang mencintai-Ku.”
Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Âdam as., “Wahai Âdam, siapa saja yang mencintai Sang Kekasih, maka ia pasti membenarkan apa pun yang diucapkan. Siapa saja yang merasa damai bersama Sang Kekasih, maka ia pasti rida terhadap apa pun yang dilakukan. Siapa saja yang betul-betul merindukan-Nya, maka ia pasti berjalan menemui-Nya tanpa kenal lelah.”
Al-Khawâsh rahimahu Allâh memukul-mukul dadanya dan berkata, “Alangkah rindunya hati ini kepada Zat yang melihatku, tetapi aku tak melihat-Nya.”
Al-Junayd rahimahu Allâh bertutur, “Yunus as. menangis hingga buta, berdiri hingga doyong, dan bersalat sampai terduduk, seraya berkata, ‘Demi kemulian dan keagungan-Mu, andai antara aku dan Engkau terbentang lautan api, maka pasti kuarungi demi kerinduanku pada-Mu.”
‘Alî karrama Allâh wajhah bercerita, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang sunah beliau. Beliau menjawab, ‘Makrifat adalah harta kekayaanku, akal adalah pangkal agamaku, cinta adalah asasku, kerinduan adalah kendaraanku, zikir mengingat Allah adalah kedamaianku, kepercayaan adalah harta simpananku, kesedihan adalah sahabatku, ilmu adalah senjataku, kesabaran adalah selendangku, rida adalah harta rampasan perangku, kelemahan adalah kebanggaanku, zuhud adalah mata pencahariaanku, keyakinan adalah kekuatanku, kejujuran dan penolongku, ketaatan adalah kecintaanku, perjuangan adalah akhlakku, dan puncak kesenanganku dalam salat.’”
Dzû al-Nûn al-Mishrî berkata, “Mahasuci Zat yang menjadikan ruh sebagai bala tentara. Ruh para arif begitu agung dan suci. Oleh karena itu, mereka rindu bertemu Allah Swt. Ruh orang mukmin bersifat rohaniah. Mereka mengelu-elukan surga, sedangkan ruh orang-orang lupa bersifat hawa nafsu. Oleh karena itu, mereka condong menyukai dunia.”
Salah seorang syekh pernah melihat seorang laki-laki di Gunung Likam. Ia berkulit sawo matang, tubuhnya lemah, melompat dari satu batu ke batu lainnya. Kudengar lelaki itu bersenandung berikut:
Cinta dan kerinduan
Telah membuat aku jadi begini
Seperti yang kau lihat ini
Ada yang mengatakan, “Kerinduan adalah bola api yang dinyalakan Allah dalam hati kekasih-kekasih-Nya dan membakar seluruh isi yang ada: berjuta kecemasan, bermacam keinginan, berbagai rintangan, dan beragam kebutuhan.
Saya rasa cukup sampai di sini uraian tentang cinta, keintiman spiritual (uns), kerinduan, dan rida. Allah jualah Sang Penunjuk kebenaran.[ ]

Sumber : kampusislam

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - Komentar Cinta dari Para Pencinta


asSuatu kali Nabi musa bertanya kepada Allah Subhanahu wata'ala tentang siapa yang Allah kasihi dan tidak kepada hambaNya. Pertanyaan itu kurang lebih seperti ini: "Ya Allah bagaimana aku tahu apa ciri orang-orang yang tengah Engkau cintai dan tidak Engkau cintai." Lalu Allah berfirman: Sesungunya bila AKU mencintai maka orang itu ada tandanya:



Orang yang selalu berdzikir. Aku berikan tanda kalau Aku mencitainya maka orang-orang ini selalu berdzikir.

Dzikir dalam pengertian lebih luas dimaknai sebagai perbuatan apapun yang semata-mata rido karena Allah subhanahu wata'ala. Dan dzikir ini baik dalam bentuk ucapan, perbuatan ataupun lintasan dalam hati, masing-masing memiliki bobot dan nilai yang tinggi di sisi Allah subhanahu wata'ala. Salah satu kelebihan itu seperti disabdakan oleh Kanjeng Rasulullah saw:


"Barangsiapa yang masuk ke dalam pasar kemudian membaca: "laa ilaaha illalahu wahdahu laa syarikalah, wahua hayun laa yamut, wahua alaa kulli syain qodirr., kataballahulladzi alfa afi sanatin..." maka Allah memberikan pahala yang berlipat ribuan."

Pasar memang mengasikkan tetapi perlu waspada. Di sana tidak sedikit kesempatan orang berbuat curang sangat banyak. Hingga dalam sebuah ayat, celaka besar orang yang menimbang dengan curang. Di pasar itu pulalah sering sekali ditemui timbangan yang dikurangi karena dicurangi. Di pasar juga sering terjadi gejolak harga yang sewaktu-waktu menguras harta dan tiba-tiba memberi keuntungan yang berlipat. Kebohongan, ketidakjujuran dan lain sebagainya paling mudah ditemui di pasar dimana terjadi transaksi barang dan jasa.

Kita juga bisa melihat dalam doa-doa harian sebagai dzikir yang diinformasikan oleh para sahabat-sahabat Nabi saw dalam merekam tindakan Rasulullah saw. Hampir dalam setiap perbuatan Rasulullah saw seperti direkam oleh para sahabatnya melakukan doa. Seperti mau tidur dan setelahnya ada doanya. Demikian hingga memakai baju dan melepaskannya. Bahkan ketika hendak masuk WC (water closet) dan keluarnya semua itu ternyata dimulai dan disudahi dengan doa. Untuk mengetahui doa-doa itu banyak sekali buku-buku mengutip doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw. Atau kalau mau merujuk ke sumber aseli (hadits) silahkan membuka kitab-kitab hadits di sana banyak sekali.

Kenapa sampai harus membaca do'a do;a tertentu. Salah satunya misalnya kenapa harus membaca doa saat masuk WC (water closet) doanya seperti berikut:


أللهم إنى أعوذبك من الخبث والخبائث

"Ya Allah lindungi kami dan (kejatahan) syetan laki-laki dan perempuan"

Dalam sebuah riwayat, orang dikejar-kejar syetan kemudian masuk WC dan membaca doa itu, maka kemudian syetan itu tidak bisa melihatnya.


Kelas dzikir kita dimana?

Kalau demikian dimanakah kelas (posisi) dzikir kita kepada Allah swt. Sesuai dengan yang diajarkan Nabi saw seperti saat kita memakai pakaian, lalu berdoa sesuai sesuai yang diajarkan Nabi, saat itulah dalam kondisi berdzikir.

Selain dzikir yang berbentuk doa, juga disertai niat: "Saya niat memakai pakaian ini untuk menutup aurat karena Allah". Atau dengan bahasa lain: "saya niat memakai pakaian supaya jangan masuk angin" dan seterusnya. Niat seperti ini juga termasuk dalam kategori dzikir tingkat tinggi.



2. Orang yang dijauhkan dari perbuatan haram.

Ciri kedua dari orang yang dicintai Allah adalah ia dijauhkan dari perbuatan haram. Sebab merekalah yang layak masuk surga,dan tidak pantas menerima adzab. Karennaya, kita bersyukur bila kita punya perasaan dan tindakan untuk membenci perbuatan-perbuatan jahat: Seperti membunuh, memfitnah, berjudi, berzina, takabur dll. Jika memliki itu, maka kita memiliki salah satu ciri dicintai Allah subhanahu wata'ala. Namun kita juga waspada sekali kepada dosa-dosa yang samar dan tidak terasa seperti kadan-kadang muncul dengan sendirinya seperti membicarkan kejelekan orang, merasa benar dan sombong sendiri, merasa paling pinter dst.

Singkatnya, dua hal tersebut hendaknya menjadi tolok ukur sejauhmana kita berada di sisi Allah subhanahu wata'ala . Jika posisi kita ini tidak seperti dua hal di atas, maka berarti posisi kita sudah bisa diketahui menjadi orang yang tidak dicintai Allah subhanahu wata'ala .

Salah satunya adalah nafsu yang terus dibiarkan dan selalu melakukan perbuatan yang haram. Karena orang yang selalu berbuat haram adalah patut mendapat adzab. Sebab mereka yang selalu mengikuti nafsunya sendri.

Akhirnya, marilah kita selalu mengedepankan khusnudzon sekaligus memperbaiki diri guna menjaga amalan-amalan harian agar tetap dalam bimbingan Rasulullah saw. Tentunya dengan terus berupaya meniru dan memperhatikan prilaku kita sebisa mungkin dengan menjaga sunah-sunah dan tentu saja setelah perbuatan yang wajib-wajib diperkekat.

Dengan terus berupaya belajar untuk tetap berada dalam rel wahyu dan berada di belakang Kanjeng Nabi Muhammad saw, Insya Allah kita bisa menjadi orang yang dicintai Allah. Sekali lagi orang yang dicintai Allah dan dibenci bisa diketahui dari ciri-cirinya. Karenanya mari kita teliti diri kita sendiri dalam kondisi apakah kita saat ini. Wallahu a'lam.

-----------

Disampaikan dalam pertemuan bulanan warga Buntet Pesantren Cirebon di rumah Ust. Drs. H. Ahmad Saehu, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu, 9 November 2008.


Sumber : buntetpesantren
Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc
READ MORE - sufizone : Ciri Orang yang Dicintai dan Dibenci Allah

Share

Share |

Artikel terbaru

Do'a

اللهم إني أسألك إيمانا يباشر قلبي ويقيناً صادقاً حتى أعلم أنه لن يصيبني إلا ما كتبته علي والرضا بما قسمته لي يا ذا الجلال والإكرام

Translation

Artikel Sufizone

Shout Box

Review www.sufi-zone.blogspot.com on alexa.com How To Increase Page Rankblog-indonesia.com blogarama - the blog directory Active Search Results Page Rank Checker My Ping in TotalPing.com Sonic Run: Internet Search Engine
Free Search Engine Submission Powered by feedmap.net LiveRank.org Submit URL Free to Search Engines blog search directory Dr.5z5 Open Feed Directory Get this blog as a slideshow!