Tafakur

Kenapa tak henti-hentinya dirimu melupakan Alloh?, Padahal sedetikpun Dia tak pernah melupakanmu, Kenapa tak henti-hentinya kau puja cinta yang tak sebenarnya?, Sedangkan Sang Maha Cinta tak pernah melepaskan Cinta-Nya darimu.

Menu

Berlangganan

Dapatkan Artikel Terbaru Sufizone

Masukkan Alamat Email Kamu:

Delivered by FeedBurner

Visitor

Tampilkan postingan dengan label Zona Doa. Tampilkan semua postingan

Syeikh Abu Nashr As-Sarraj
Kefakiran
Syekh Abu Nashr as-Sarraj — rahimahullah — berkata: Saya pernah mendengar jawaban Ibnu Salim ketika ditanya tentang dzikir, “Ada tiga macam bentuk dzikir: dzikir dengan lisan yang memiliki sepuluh kebaikan, dzikir dengan hati yang memiliki tujuh ratus kebaikan dan dzikir yang pahalanya tidak dapat ditimbang dan dihitung,
yaitu puncak kecintaan kepada Allah serta perasaan malu karena kedekatan-Nya.”

Al- Junaid -rahimahullah- berkata, “Kefakiran adalah samudra cobaan (bala’), namun seluruh cobaannya adalah kemuliaan.” la ditanya tentang kapan orang fakir yang jujur ini mengharuskan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan tenggang waktu lima ratus tahun? Maka la menjawab, “Jika si fakir ini bermuamalah kepada Allah dengan hati nuraninya, setuju dengan Allah pada apa yang tidak diberikan-Nya, sehingga kefakirannya dianggap sebagai nikmat dari Allah yang diberikan kepadanya, dimana la merasa takut bila kefakirannya itu hilang sebagaimana ia merasa takut bila kekayaannya itu hilang. Ia selalu bersabar, berniat karena Allah dan bersenang hati dengan kefakiran yang telah dipilihkan Allah untuknya, dengan tetap menjaga agamanya, menyembunyikan kefakirannya, menampakkan kekecewaannya terhadap makhluk dan merasa cukup dengan Allah dalam kefakirannya, sebagaimana difirmankan Allah Swt., ‘(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orangkaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.’ (Q.S. al-Baqarah: 273).

Apabila si fakir memiliki sifat-sifat tersebut, maka la akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan tenggang waktu lima ratus tahun. Sementara hari Kiamat cukup baginya sebagai beban untuk menunggu dan diperhitungkan amalnya.”
Ibnu al Jalla’ -rahimahullah- berkata, “Barangsiapa tidak menyertai kefakirannya dengan sikap wara` (jaga diri dari syubhat), maka la akan terjerumus pada hal-hal yang diharamkan secara pasti, sementara la sendiri tidak menyadarinya.”
Al Junaid -rahimahullah- pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” Lalu la menjawab, “Yaitu orang fakir yang ridha.”
Al-Muzayyin -rahimahullah- pernah mengatakan, “Batas kefakiran ialah bila orang yang fakir tidak bisa lepas dari kebutuhan.”
Ia juga mengatakan, `Apabila si fakir kembali kepada Allah Azza wa Jalla maka la akan bisa diterangkan bahwa la disertai ilmu pengetahuan, akhirnya la bingung dalam keberadaannya.”
Sementara al Junaid -rahimahullah- mengatakan, “Seseorang tidak bisa memastikan dengan benar akan kefakirannya sehingga la yakin bahwa di hari Kiamat nanti tidak ada orang yang lebih fakir daripada dirinya.”

Pendapat Mereka Tentang Ruh

Asy-Syibli -rahimahullah- mengatakan, "Hanya dengan Allah, ruh, jasad dan bersitan-bersitan hati bisa eksis, dan bukan karena eksistensi dzatnya masing-masing."
Ia juga pernah berkata, "Ruh itu penuh keramahan dan kelembutan, kemudian ia menggantung pada ujung hakikat. Ia tidak tahu siapa sebenarnya yang disembah dan berhak sebagai peribadatan, dimana la tidak mendekat kepada Dzat Yang Maha Menyaksikan (asy-Syahid) dengan tanpa melihat pada fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi (Masyahid). la yakin, bahwa makhluk tidak akan bisa memahami Dzat Yang Maha Qadim dengan SifatNya yang bisa diberi alasan."
Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Saya pernah melihat pembahasan al Wasithi -rahimahullah- tentang ruh, dimana la mengatakan, "Ruh itu ada dua macam: ruh yang menghidupkan makhluk, dan ruh yang menjadi penerang hati. Dan ruh yang terakhir inilah yang difirmankan Allah Swt.:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (nilai spiritual al-Qur'an) dengan perintah Kami.”
(Q.S. asy-Syura: 52).

la dinamakan ruh karena kelembutannya. Jika anggota tubuh berbuat kejelekan yang menyalahi adabnya, maka ruh akan terhalang dari sentuhan-sentuhan sebab yang menyakitkan."
Al Wasithi melanjutkan, "Ketika perhatian-perhatian itu terjadi pada ruh, maka ia akan menapak lebih tinggi pada hari-hari dan waktunya, la tahu segala yang mengajaknya berbicara dan memberi isyarat pada yang bisa dilihat."
Selanjutnya al Wasithi mengatakan, "Sesungguhnya itu adalah dua unsur: ruh dan akal. Maka ruh tidak dapat memberi kepada ruh sesuatu yang dicintainya. Demikian pula akal tidak siap untuk menolak dari akal sesuatu yang tidak disukainya."
Dikisahkan dari Abu Abdillah an-Nibaji yang mengatakan, “Apabila seorang arif telah bisa ‘sampai' (wushul), maka dalam dirinya terdapat dua ruh: ruh yang tidak mengalami perubahan dan perbedaan, dan ruh yang mengalami perubahan dan perbedaan."
Sebagian kaum Sufi mengatakan, "Ruh itu ada dua macam: ruh yang bersifat qadim dan ruh manusiawi (basyariyyah). Mereka berpendapat demikian atas dasar sabda Rasulullah Saw.:
"Kedua mataku tidur, namun hatiku tidak tidur." (H.r. Bukhari-Muslim dari Aisyah).

Maka secara lahiriah beliau tidur dengan ruh manusiawinya, sementara batinnya tidak tidur dan selalu terjaga tanpa mengalami perubahan.
Demikian halnya dengan sabda beliau:
"Sesungguhnya aku dijadikan lupa supaya aku bisa membuat sunnah. "
Sementara itu beliau juga pernah memberitahu, bahwa beliau tidak pernah dijadikan orang yang lupa. Maka apa yang diberitahukan ini adalah kondisi ruh qadim.
Demikian pula dengan sabda beliau:
“Aku tidaklah seperti kalian, sesungguhnya aku senantiasa berada dalam lindungan Tuhanku Yang memberiku makan dan minum."

Apa yang diberitahukan ini adalah sifat ruh qadim. Sebab beliau memberitahukan tentang sifat-sifat yang bukan sifat-sifat ruh. Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Pendapat tentang ruh yang dikemukakan tersebut adalah tidak benar. Sebab sifat keqadiman tidak akan bisa terpisah dari Dzat Yang Maha Qadim, sementara makhluk tidak sambung dengan Yang Maha Qadim - Semoga Allah senantiasa memberi taufik.
Saya pernah mendengar Ibnu Salim ditanya tentang pahala dan siksa, "Apakah pahala dan siksa diberikan pada ruh dan jasad atau hanya pada jasad?" Maka ia menjawab, "Taat dan maksiat tidak muncul dari jasad saja tanpa ruh atau dari ruh saja tanpa jasad, sehingga pahala dan siksa hanya diberikan pada jasad saja atau pada ruh saja. Maka orang yang berpendapat bahwa ruh itu mengalami reinkarnasi, perpindahan dan keqadiman, maka ia benar-benar tersesat dan sangat merugi."

Isyarat
Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Jika ada seseorang bertanya, "Apa makna isyarat?" Maka jawablah, "Pada firman Allah, ‘Maha Suci Dzat' (Q.s. al-Furqan:1).
Maka lafadz ‘alladzii’ dalam ayat tersebut adalah suatu kirzayah (metonimia). Sementara metonimia adalah seperti isyarat dalam kelembutan maknanya. Dan isyarat hanya bisa dipahami oleh para tokoh yang memiliki keilmuan yang tinggi."

Asy-Syibli -rahimahullah- berkata, "Setiap isyarat yang digunakan makhluk untuk memberi isyarat kepada al-Haq adalah dikembalikan kepada mereka, sehingga mereka memberi isyarat kepada al-Haq dengan al-Haq, yang mana mereka tidak menemukan jalan untuk menuju ke sana."
Abu Yazid al-Bisthami mengatakan, "Orang yang paling jauh dari Allah ialah orang yang paling banyak memberi isyarat kepadaNya." Kemudian la bercerita, ‘Ada seseorang datang kepada al-Junaid bertanya tentang suatu masalah. Kemudian al-Junaid memberi isyarat dengan kedua matanya melihat ke langit. Lalu orang tersebut berkata, ‘Wahai Abu al-Qasim, jangan memberi isyarat kepadaNya, sebab Dia lebih dekat dengan Anda daripada apa yang Anda isyaratkan.' Maka
al- Junaid berkata, ‘Anda benar.' Dan kemudian tertawa."

Dikisahkan dari Amr bin Utsman al-Makki -rahimahullah- yang mengatakan, "Hakikat para sahabat kami adalah Tauhid sementara isyarat mereka dianggap syirik."
Sebagian kaum Sufi berkata, "Masing-masing orang ingin memberi isyarat kepada-Nya, akan tetapi tidak seorang pun diberi jalan menuju ke sana."
Dikisahkan dari al Junaid -rahimahullah- yang pernah berkata kepada seseorang, "Dia itukah yang Anda beri isyarat wahai laki-laki? Berapa kali Anda memberi isyarat kepada-Nya? Tinggalkan, maka Dia akan memberi isyarat kepada Anda."
Abu Yazid -rahimahullah- berkata, "Barangsiapa memberi isyarat kepada-Nya dengan ilmu, maka la telah kufur, sebab isyarat dengan ilmu hanya terjadi pada sesuatu yang diketahui. Dan barangsiapa memberi isyarat kepada-Nya dengan ma'rifat maka ia telah kufur (mulhid) sebab isyarat dengan ma'rifat hanya terjadi pada hal-hal yang bisa dibatasi."

Saya mendengar ad-Duqqi bercerita: Az-Zaqqaq -rahimahullah- pernah ditanya tentang ‘murid', maka la menjawab, "Hakikat murid ialah dengan memberi isyarat kepada Allah Swt, sehingga ia bisa menemukan Allah bersamaan dengan isyarat itu sendiri." Kemudian la ditanya, "Lantas apa yang bisa memahami kondisi spiritualnya?" la menjawab, "Ialah menemukan Allah Swt. dengan menghilangkan isyarat?" Permasalahan ini dikenal dari al Junaid.
An-Nuri -rahimahullah- mengatakan, "Dekatnya kedekatan tentang apa yang kita beri isyarat adalah jauhnya kejauhan."
Yahya bin Mu'adz -rahimahullah- berkata, "Jika Anda melihat seseorang memberi isyarat kepada suatu perbuatan maka tarekat (cara) yang ia tempuh adalah tarekat wara’ (jaga diri dari syubhat). Jika Anda melihat seseorang memberi isyarat kepada ilmu maka tarekat yang la tempuh adalah tarekat ibadah. Jika Anda melihatnya memberi isyarat pada keamanan dalam rezeki maka tarekatnya adalah tarekat zuhud. Jika Anda melihatnya memberi isyarat pada ayat-ayat Tuhan, maka tarekatnya adalah tarekat al-Abdal (para pengganti). Jika Anda melihatnya memberi isyarat kepada nikmat-nikmat Allah maka tarekatnya adalah tarekat para arif."
Abu All ar-Rudzabari -rahimahullah- mengatakan, "Ilmu kami ini adalah isyarat. Jika telah menjadi ungkapan maka akan tidak jelas (samar)."
Seseorang menanyakan suatu masalah kepada Abu Ya'qub as-Susi -rahimahullah- dimana la hanya memberikan isyarat atas pertanyaannya itu. Maka as-Susi menjawab, "Wahai laki-laki yang bertanya, sebenarnya kami bisa menjawab pertanyaan Anda tanpa dengan isyarat yang Anda berikan." Tampaknya Abu Ya'qub tidak menyukai isyaratnya.

Kepandaian (azh-Zharf)

Al Junaid -rahimahullah- pernah ditanya tentang makna azh-zharf, maka ia menjawab, “Yaitu menghindari segala bentuk akhlak yang rendah, dan menggunakan segala akhlak yang mulia, Anda berbuat semata karena Allah kemudian Anda tidak melihat bahwa diri Anda merasa berbuat.”

Muru’ah
Ahmad bin Atha' -rahimahullah- ditanya tentang muru'ah, maka la menjawab, "Jangan menganggap banyak amalan yang Anda lakukan untuk Allah, dan ketika Anda melakukan suatu amal maka seakan-akan Anda tidak pernah melakukan sesuatu, sementara Anda menginginkan yang lebih banyak dari itu."

Nama Sufi
Mengapa kelompok ini disebut dengan sebutan Sufi? Maka Ibnu ‘Atha' -rahimahullah- memberikan jawaban, "Mereka disebut dengan nama itu, karena bersihnya kelompok tersebut dari kotoran makhluk dan keluar dari tingkat kejelekan."
An-Nuri -rahimahullah- mengatakan, “Mereka disebut dengan nama ini, sebab kelompok tersebut mencakup makhluk dengan lahiriah para ahli ibadah, sementara mereka mencurahkan segalanya hanya untuk Allah dengan tingkatan orang-orang yang cinta.”
Asy-Syibli -rahimahullah- berkata, “Mereka disebut dengan nama ini, karena masih ada sisa-sisa diri (nafsu) mereka yang tertinggal. Andaikan tidak ada sisa-sisa tersebut, tentu tidak akan ada nama yang bisa melekat pada mereka.”
Sebagian kaum Sufi mengatakan, “Mereka disebut demikian disebabkan mereka bernafas dengan ruh kecukupan (al-kifayah) dan berpenampilan dengan sifat inabah (kembali kepada Tuhan).”


Rezeki
Yahya bin Mu'adz -rahimahullah- mengatakan, "Dalam wujud (keberadaan) seorang hamba, rezeki tanpa harus dicari, dan itu membuktikan bahwa rezeki diperintah untuk mencari pemiliknya."
Sebagian kaum Sufi mengatakan, "Apabila saya mencari rezeki sebelum waktunya maka saya tidak akan mendapatkannya dan apabila saya mencarinya setelah lewat waktunya saya juga tidak akan mendapatkannya dan apabila saya mencarinya tepat pada waktunya maka saya akan tercukupi."
Diceritakan dari Abu Ya'qub -rahimahullah- yang berkata: Orang-orang berbeda pendapat tentang sebab-sebab datangnya rezeki. Sebagian kaum mengatakan, bahwa sebabnya rezeki adalah berusaha dan bekerja keras. Ini adalah pendapat orang-orang Qadariyah. Sementara itu sebagian kaum yang lain mengatakan, bahwa sebabnya rezeki adalah taqwa.
Mereka berpendapat demikian atas dasar lahiriah ayat al-Qur'an:
"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka."
(Q.s. ath-Thalaq: 2-3).

Mereka telah keliru dalam pendapatnya. Sementara Ilmu yang ada di sisi Allah, bahwa sebabnya rezeki ialah karena penciptaan. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt.:
“Allah-lah yang menciptakan kalian, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan."
(Q.s. ar-Rum: 40).

Allah tidak mengkhususkan pemberian rezeki-Nya kepada orang mukmin saja, tetapi juga orang kafir.
Abu Yazid bercerita: Saya pernah memuji baik seorang murid di hadapan sebagian ulama. Kemudian orang alim (ulama) tersebut bertanya, "Dari mana penghidupannya?" Saya menjawab, "Saya tidak pernah meragukan Penciptanya sehingga saya harus bertanya siapa yang memberinya rezeki." Orang alim tersebut merasa malu lalu ia tidak melanjutkan.

Masalah 1
Al Junaid -rahimahullah- ditanya, "Bagaimana bila nama seorang hamba telah hilang dan yang tetap tinggal hanya hukum Allah?" Maka la menjawab, "Perlu Anda ketahui - semoga Allah memberi rahmat kepada Anda - bahwa jika ma'rifat kepada Allah (Ma'rifat Billah) telah menjadi agung dan tinggi, maka bekas-bekas hamba akan menghilang dan simbol-simbolnya akan terhapus. Pada saat itu tampaklah ilmu al-Haq dan yang tersisa adalah nama hukum Allah Swt."
Al Junaid -rahimahullah- pernah ditanya, "Kapan seorang hamba menganggap sama antara orang yang memuji dengan orang yang mencacinya?" la menjawab, "Ketika la menyadari bahwa ia hanyalah seorang makhluk dan bahan fitnahan."

Ibnu Atha' -rahimahullah- ditanya, "Kapan la mendapatkan kedamaian hati? atau Dengan apa la bisa meraih kedamaian hati?" la menjawab, "Yaitu dengan memahami haqul-yaqin, yaitu al-Qur'an, kemudian la diberi ilmul-yaqin dan setelah itu la melihat ainul-yaqin. Pada saat itu hatinya akan merasa tenteram. Sedangkan ciri-cirinya adalah ridha atas takdir yang telah ditentukan-Nya dengan perasaan penuh wibawa dan cinta serta menganggap-Nya sebagai Pelindung dan Dzat Yang diserahi tanpa ada perasaan curiga yang mengganjal."

Abu Utsman -rahimahullah- ditanya tentang perasaan sedih yang sering dialami manusia pada umumnya, sementara la tidak tahu dari mana la datang. Maka Abu Utsman menjawab, "Sesungguhnya ruh selalu mawas diri dari perbuatan dosa dan kejahatan yang senantiasa mengintai jiwa (nafsu), sementara jiwa akan melupakannya. Dan apabila ruh menemukan jiwa telah sadar, maka kejahatannya akan ditunjukkan, akhirnya ia diselimuti rasa kegelisahan dan sedih. Inilah perasaan sedih yang sering ditemukan seseorang, sementara ia tidak mengerti dari mana la masuk ke dalam dirinya."

Firasat
Yusuf bin al-Husain -rahimahullah- pernah ditanya tentang Hadis Nabi Saw, "Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin karena ia melihat dengan Cahaya Allah." Maka la mengatakan, "Ini benar dari Rasulullah dan terutama orang-orang yang beriman (mukmin). Dan ini adalah kelebihan dan karamah (kemuliaan ) bagi orang yang hatinya diberi cahaya oleh Allah dan dilapangkan dadanya. Sementara itu seseorang tidak berhak memberikan keputusan hukum untuk dirinya dengan firasat tersebut, sekalipun banyak benarnya dan sedikit sekali terjadi kesalahan. Orang yang tidak bisa memberikan keputusan hukum untuk dirinya dengan hakikat keimanan, kewalian dan kebahagiaan, lalu bagaimana ia bisa memberi keputusan hukum untuk dirinya dengan kelebihan karamah? Sebenarnya itu hanyalah kelebihan bagi orang-orang beriman tanpa harus memberi isyarat apa pun kepada seseorang."

Fantasi (waham)
Ibrahim al-Khawwash -rahimahullah- pernah ditanya tentang waham, maka ia mengatakan, "Waham adalah pemisah yang berdiri sendiri antara akal dan pemahaman, dimana ia tidak bisa dinisbatkan pada akal sehingga menjadi bagian dari sifat-sifat akal dan tidak pula dinisbatkan pada pemahaman sehingga ia menjadi bagian dari sifat-sifat pemahaman. Namun la berdiri sendiri yang mirip dengan sinar antara matahari dengan air, dimana ia tidak bisa dinisbatkan pada matahari dan tidak pula pada air. Atau mirip dengan rasa kantuk antara tidur dan bangun terjaga, maka ia tidak bisa disebut orang yang sedang tidur dan tidak pula orang yang sedang bangun terjaga. Maka ini adalah kesadarannya, yakni kelangsungan akal pada pemahaman atau pemahaman pada akal, sehingga di antara keduanya tidak ada pemisah yang berdiri sendiri. Sedangkan pemahaman adalah intisari yang jernih dari akal, sebagaimana intisari segala sesuatu adalah isinya."

Masalah 2
Abu Yazid -rahimahullah- pernah ditanya tentang makna firman Allah Swt.:
"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.".
(Q.s. Fathir: 32).

Maka Abu Yazid mengatakan, "Orang yang terlebih dahulu berbuat kebaikan (as-sabiq) adalah orang yang dicambuk dengan cambuk cinta (mahabbah), dipenggal dengan pedang kerinduan dan berbaring di depan ‘pintu' kewibawaan. Sementara orang yang tengah-tengah (al-muqtashid) adalah dicambuk dengan cambuk kesedihan, dipenggal dengan pedang penyesalan lalu berbaring di depan ‘pintu' kemuliaan. Sedangkan orang yang menganiaya dirinya sendiri (azh-zhalim) adalah dicambuk dengan cambuk harapan dan cita-cita, dipenggal dengan pedang ketamakan lalu terkapar di ‘pintu' siksaan."
Sementara itu kaum Sufi yang lain mengatakan, "Orang yang menganiaya dirinya sendiri akan disiksa dengan hijab (penghalang), dan orang yang berada di tengah-tengah telah masuk ke bagian dalam, sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan telah sujud di atas hamparan milik Sang Penguasa dan Maha Pemberi."
Sedangkan yang lainnya berkata, "Orang yang menganiaya dirinya sendiri disiksa dengan penyesalan atas kecerobohannya, sedangkan orang yang tengah-tengah diselimuti dengan perlindungan dan kehati-hatian. Sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan akan bersujud dengan hatinya kepada al-Haq di atas hamparan ‘permadani’. Orang yang menganiaya dirinya akan terhalang dari memperoleh penjagaan dan as-sabiq tampak melakukan sujud di atas permadani dengan hatinya kepada al-Haq. Sementara itu orang yang menganiaya dirinya sendiri akan terhalang untuk mendapatkan isyarat, orang yang tengah-tengah akan terjaga dengan isyarat yang jelas, sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan akan selalu dicinta dengan membenarkan isyarat."
Sementara itu ada kaum Sufi lain yang berpendapat, bahwa orang yang menganiaya diri sendiri adalah dal, orang yang tengah-tengah adalah ba', dan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan adalah mim.

Berandai (Tamanni)
Ruwaim bin Ahmad -rahimahullah- pernah ditanya, "Bolehkan seorang murid berandai-andai?" la menjawab, "Seorang murid tidak seyogyanya berandai-andai, la hanya boleh berharap. Sebab berandai-andai adalah melihat nafsu sedang berharap adalah melihat apa yang lebih dahulu ditentukan Allah.
Berandai-andai adalah termasuk sifat-sifat nafsu, sedangkan berharap adalah sifat hati. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu."



http://www.sufinews.com

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - AL-Luma

Dzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan dzikir kepadamu.(Q.s. Al Baqarah: 152).
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Q.s. Al Ahzab: 41)
“Ahli dzikir kepada-Ku adalah teman duduk-Ku.” (Hadis Qudsy yang diriwatatkan HR. Ahmad)
“Siapa yang ingin bersenang-senang ditaman syurga, perbanyaklah dzikir.” (HR.Thabrani)

Keselamatan memiliki empat bagian, yang sembilan diantaranya terdapat dalam diam kecuali dari dzikir kepada Allah Taa’la, sedangkan yang satunya lagi terdapat dalam meninggalkan pergaulan dengan orang-orang bodoh. (Ali Bin Abi Thalib)
Orang yang berdzikir kepada Allah ditengah-tengah orang-orang yang lalai berdzikir kepada-Nya seperti pohon yang hijau yang berada ditengah-tengah tanaman yang kering, dan seperti rumah yang berpenghuni diantara reruntuhan rumah. (Ali bin Abi Thalib)
Diantara indera-indera lahiriah, tidak ada yang lebih mulia daripada mata, maka janganlah kamu penuhi semua keinginannya (pandangannya) karena ia akan melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. (Ali Bin Abi Thalib)

Dzikir adalah membebaskan diri dari sikap lalai dan lupa dengan menghadirkan hati secara terus-menerus bersama Allah. Sebagian kalangan mengatakan bahwa dzikir adalah menyebut secara berulang-ulang dengan hati dan lisan nama Allah, salah satu sifat-Nya, salah satu hukum-Nya, atau lainnya, yang dengannya seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah. (Menurut Ibnu Athaillah)
Dzikir adalah lembaran kekuasaan, cahaya penghubung, pencapaian kehendak, tanda awal perjalanan yang benar dan bukti akhir perjalanan menuju Allah. Tidak ada sesuatu setelah dzikir. Semua perangai yang terpuji merujuk kepada dzikir dan bersumber darinya. ( Imam Abu Qasim al Qusyairi)
Dzikir adalah unsur penting dalam perjalanan menuju al Haq. Bahkan, dia adalah pemimpin dalam perjalanan tersebut. Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dia tekun dalam berdzikir. (Imam Abu Qasim Al Qusyairi)

Tidak diragukan bahwa hati dapat berkarat seperti halnya besi dan perak. Dan alat pembersih hati adalah dzikir. Dzikir dapat membersihkannya, sehingga dia menjadi seperti cermin yang bersih. Apabila seseorang meninggalkan dzikir, maka hatinya akan berkarat. Dan apabila dia berzikir, maka hatinya menjadi bersih.Berkaratnya hati disebabkan dua perkara, yakni lalai dan dosa. Dan yang dapat membersihkannya juga dua perkara, yakni istighfar dan dzikir. Barang siapa yang lalai dalam kebanyakan waktunya, maka karat di hatinya akan menumpuk sesuai dengan tingkat kelalaiannya. Apabila hati berkarat, maka segala sesuatu tidak tergambar di dalamnya sesuai dengan faktanya. Dia akan melihat kebatilan dalam bentuk kebenaran, dan melihat kebenaran dalam bentuk kebatilan. Sebab, ketika karat hati itu bertumpuk, hati menjadi gelap, sehingga bentuk-bentuk kebenaran tidak tergambar sebagaimana adanya. Apabila karat hati bertumpuk, maka hati menjadi hitam dan pandangannya menjadi rusak, sehingga dia tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat mengingkari kebatilan. Inilah siksaan hati yang paling berat. Sumber dari semua itu adalah kelalaian dan mengikuti hawa nafsu. Keduanya menghilangkan cahaya hati dan membutakannya. Allah berfirman dalam surat al Kahfi ayat 28 yang artinya : Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas. (Ibnu qayyim Al jauziyah)
Keistimewaan itu terdapat dalam ucapan, perbuatan dan benda-benda. Dan keistimewaan yang paling agung adalah keistimewaan dzikir. Sebab, tidak ada amal anak Adam yang paling dapat menyelamatkannya dari siksa Allah selain dzikir kepada-Nya. Allah telah menjadikan segala sesuatu seperti minuman. Masing-masing memiliki manfaat khusus. Dengan demikian, setiap yang umum dan yang khusus harus diperhatikan sesuai dengan kondisi setiap orang. (Ahmad Zaruq)

Tidak akan terbuka pintu maqam ridla bagi seorang hamba melainkan setelah dia mengerjakan tiga perkara pada fase awal perjalanannya, yaitu :
1. Dia tenggelam dalam nama tunggal (Allah). Dzikir dengan nama tunggal ini hanya khusus bagi orang-orang yang telah mendapat izin dari seorang mursyid kamil.
2. Dia bergaul dengan orang-orang yang berzikir
3. Dia konsisten dalam mengerjakan amal saleh, dan bersih dari noda. Dengan kata lain, dia berpegang teguh pada syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw. (Ahmad ibn Ujaibah)

Ada tiga macam dzikir: Dzikir dengan lisan yang memiliki sepuluh kebaikan. Dzikir dengan hati yang memiliki tujuh ratus kebaikan, dan dzikir yang pahalanya tidak ditimbang dan dihitung , yaitu puncak kecintaan kepada Allah serta perasan malu karena kedekatan-Nya. (Ibnu Salim)
Tidak setiap orang yang mengaku berdzikir (mengingat Allah) meski orang ingat (Sahl bin Abdullah)
Makna dzikir adalah mengaktualisasikan pengetahuan, bahwa Allah melihat Anda. Maka dengan hati Anda menyaksikan-Nya dengan dekatdengan Anda dan Anda merasa malu dengan-Nya. Kemudian Anda memprrioritaskan-Nya daripada diri Anda sendiridan seluruh kondisi spiritual Anda. (Sahl bin Abdullah)
Hakikat dzikir adalah melupakan dzikir. Yakni melupakan dzikir Anda kepada Allah SWT. dan melupakan segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla. (Asy-Syibli)
Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah swt. Sungguh, ia adalah landasan bagi tharikat itu sendiri. Tidak seorang pun dapat mencapai Allah swt, kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya. (Abu Ali ad-Daqqaq berkata)
Dzikir adalah tebaran kewalian. Seseorang yang dianugerahi keberhasilan dalam dzikir berarti telah dianugerahi taburan itu, dan orang yang tidak dianugerahinya berarti telah dipecat. (Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq )

Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dan memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa. (al-Wasithy )
Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu. (Dzun Nun al-Mishry )
Seandainya bukan kewajibanku untuk berdzikir kepada-Nya, tentu aku tidak berdzikir karena mengagungkan-Nya. Orang sepertiku berdzikir kepada Allah swt.? Tanpa membersihkan mulutnya dengan seribu tobat karena berdzikir kepada-Nya!” (Muhammad al-Kattany )
Tiada sehari pun berlalu, kecuali Allah swt. berseru, ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah berlaku zalim kepada-Ku. Aku mengingatmu, tapi engkau melupakan-Ku. Aku menghilangkan penderitaanmu, tapi engkau terus melakukan dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok jika engkau bertemu dengan Ku’? (Sahl bin Abdullah)
Seseorang yang tidak dapat merasakan keganasan alpa, tidak akan merasakan sukacita dzikir. (Abu Utsman )
Ada hukuman atas tiap-tiap sesuatu, dan hukuman bagi seorang ahli ma’rifat adalah terputus dari dzikir kepada-Nya.(Ats-Tsaury)
Dzikir berarti tiadanya ingatan pelaku dzikir terhadap dzikirnya. (Dzun-Nun)
Dzikir dengan lidah tana dirasakan oleh hati-itulah dzikir yang biasa; dzikir dengan lidah yang disertai oleh hati-itulah dzikir yang meraih pahala; dan dzikir bilah hati mengembara dalam ingatan dan meninggalkan lidah dalam diam, nilai dzikir semacam itu hanya dikethui oleh Allah SWT. (al Kharraz)
Barangsiapa yang ingat akan dzikir-Nya lebih lalai ketimbang yang lupa akan dzikir-Nya. (Abu Bakar al Wasiti)
Carilah kemanisan dalam tiga hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Kemanisan hanya dapat ditemukan di sana, atau jika tidak sama sekali, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.(Abu Sulaiman ad-Dar).



http://www.sufinews.com

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - Ensiklopedia Dzikir

Rasulullah Saw bersabda, ”Allah telah mewahyukan kepada salah seorang Nabi di antara nabi-nabi-Nya: “Wahai keturunan Adam! Berdzikirlah kepada-Ku pada saat engkau marah niscaya Aku akan mengingatmu di saat Aku marah dan Aku tidak akan membinasakanmu di antara orang-orang yang Aku binasakan” (Mizan al-Hikmah 3 : 424)

Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang diakibatkan kemarahan, ada baiknya Anda segera berdo’a untuk mengatasi gejolak emosi yang sering berbalik mengendalikan diri kita.

Di dalam kitab-kitab yang ditulis para alim mazhab Ahlul Bait banyak sekali do’a-do’a yang berfungsi untuk mengatasi kemarahan. Saya hanya mengutip 2 buah do’a yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Al-Hasan ibn Fadhlin al-Thabarsiy di dalam Kitab yang disusunnya, Makarim al-Akhlaq meriwayatkan sebuah hadits dari Imam al-Shadiq as, bahwa beliau telah berkata, ‘Ucapkanlah do’a ini ketika (Anda sedang dilanda amarah) :

“Allahumma adzHib ‘annii ghaizha qalbi
waghfirlii dzanbii, wa ajirnii min madhaalaatil fitan.
As-alukabi ridhaaka, wa a’udzubika min sakhathika.
As-aluka jannatuka wa a’udzubika min naarika.
As-aluka al-khayr kullahu wa a’udzubika min syarri kullihi.
Allahumma tsabitnii ‘alal hudaa wash-shawaab,
waj ‘alnii raadhiyan mardhiyyan ghairo dhallan
wa laa mudhillan. Shallii ‘alan Nabiyi wa aalihi.”

Artinya : “Ya Allah, hilangkan dariku hati yang suka marah dan ampunilah dosa-dosaku dan jauhkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan. Aku memohon kepada-Mu ridha-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu, dan aku memohon kepada-Mu akan surga-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka-Mu. Aku memohon kepada-Mu akan segala kebaikan dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dan kejahatan. Ya Allah, teguhkanlah aku dalam petunjuk dan kebenaran. Dan jadikanlah aku orang yang ridha akan (qadla dan qadar-Mu) dan diridhai (oleh-Mu), bukan orang yang sesat dan disesatkan. Kesejahteraan kiranya atas Nabi (Muhammad) dan keluarganya”

Atau do’a yang singkat :

“Allahummaghfir dzanbii wa adzHib ghaizha qalbi
wa ajirnii minasy syaithaanir rajiim,
wa laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim”

(Mustadrak al-Wasail 12 : 15)

Artinya : “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan hilangkan dariku hati yang suka marah dan jauhkanlah aku dari syaithan yang dirajam. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali karena pertolongan dari Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung”

Sumber : qitori

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Doa Ketika Marah

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبنَّاَ لاَعِلْمَ لنَاَ اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا. إِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْناَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَعَلِمْنَامِنْ لَدُنْكَ عِلْمًا نَافِعاً يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. اَللّهُمَّ افْتَحْ لَنَا حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا رَحْمَتَكَ ياَذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. رَبِّ زِدْنِيْ عِلْماً. وَوَسِّعْ فِيَّ رِزْقِيْ. وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا رَزَقْتَنِيْ. وَاجْعَلْنِيْ مَحْبُوْبًا فِيْ قُلُوْبِ عِبَادِكَ وَعَزِيْزًا فِيْ عُيُوْنِهِمْ وَاجْعَلْنِيْ وَجِيْهًا فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ. يَاكَثِيْرَ النَّوَالِ يَاحَاسَنَ الْفِعَالِ. يَاقَائِماً بِلاَ زَوَالِ يَامُبْدِئاً بِلاَ مِثَالِ فَلَكَ الْحَمْدُ وَاْلمِنَّةُ وَالشَّرَفُ عَلَى كُلِّ حَالٍ.
READ MORE - Sufi Zone : Doa Pembukaan Pengajian Al-Hikam Oleh KH. Imron Jamil

Wirdul-Latif

Zikir Pagi Dan Petang

Susunan

الإمام القطب عبد الله بن علوي الحداد

Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad


الوِرْدُ اْللَطِيف

Wirdul-Latif

Wirdul-Latif adalah satu dari susunan wirid dan zikir oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Selalunya ia dibaca berseorangan pada waktu pagi dan petang. Seperti karangannya yang lain, Imam Haddad menguatkan wirid ini dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadith.

Dengan cara tulisannya yang senang difaham, pendek dan tepat, beliau menyusun ayat-ayat Al-Quran dan Hadith untuk berzikir kebesaran dan kelebihan Allah. Dinamakan Wirdul-Latif (wirid ringan) sebab senang dibaca dan senang dirasakan di hati kita. Juga sebab ia tidak begitu panjang seperti wirid yang besarnya, iaitu Wirdul-Kabir.

Karangan dan bacaan Wirdul-Latif di sini ialah seperti yang dianjurkan oleh pengikut-pengikut, murid-murid dan muslimin di negeri Arab, Semenanjung Asia dan Africa, dari keturunan Al-Haddad, Munsib-munsibnya di maqam Imam al Haddad di Al-Hawi, Tarim - Hadhramaut di negara Yaman.

Imam Alawi bin Ahmad bin Hassan Al-Haddad, anak kepada cucu beliau telah menyusunkan wirid ini dengan mengurangkan jumlah bacaan tasbih and tahmeed. Perulangan tasbih dan tahmeed dikurangkan kepada tiga dan ditambah satu ayat untuk gantinya. Baginda mengikut arahan Allah seperti di Surah 2 Al-Baqarah Ayat 286: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya.”

Diriwayatkan daripada Anas r.a. katanya: Rasulullah s.a.w telah masuk ke masjid dan baginda mendapati ada seutas tali yang direntangkan di antara dua tiang, lalu baginda bertanya: “Tali apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Tali itu digunakan oleh Zainab untuk sembahyang, apabila dia merasa malas atau keletihan dia akan berpegang pada tali tersebut.” Rasulullah s.a.w bersabda lagi, “Lepaskan ikatan tali tersebut, seseorang dari kamu hendaklah bersembahyang dengan keupayaan yang ada pada dirinya, apabila dia malas atau letih maka hendaklah dia berhenti.” Zainab adalah seorang yang kukuh imannya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Zainab r.a. jikalau ia mahu belajar satu zikir yang berpahala serupa dengan membaca bilangan zikir-zikir ini. Dan Baginda pun berkata, “tambahkan kalimah ‘seberapa banyak ciptaan Nya’ kepada setiap tasbih, taslim and tahmeed”.

Sudah tentulah lebih baik kalau kita ada masa dan tenaga untuk membaca wirid ini dengan sepenuhnya. Insya Allah Allah akan memberi kita taufiq dan hidayat dan merahmati Al-Habib kita serta memimpin kita ke jalan yang benar.


الوِرْدُ اْللَطِيف

1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اْللهُ أَحَدٌ، اَللهُ اْلصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يٌوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. (ثلاثا)

1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3X)

Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”

Dari Al-Muwatta', diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).

2. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَـرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَـرِّ النَّـفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ. (ثلاثا)

2. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”. Surah Al-Falaq (3X)

Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku..

3. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ. (ثلاثا)

3. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas (3X)

Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.

4. رَبِّ أَعُوذُ بِـكَ مِنْ هَمَـزَاتِ الشَّيَـاطِينِ، وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُـرُونِ. (ثلاثا)

4. Ya Tuhanku, aku berlindung dengan-Mu dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung pula dengan-Mu ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku. (3X)

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 97-98

5. أَ فَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاَ وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُـوْنَ.

5. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 115

6. فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ.

6. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya - Tidak ada Tuhan Selain Dia - Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang Agong.

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 116

7. وَ مَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهاً آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِـهِ، فَإِنَّمَا حِسَـابُهُ، عِنْدَ رَبّـِهِ، إِنَّـهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِـرُوْنَ.

7. Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak beruntung.

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 117

8. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

8. Dan katakanlah: Ya Tuhanku berilah ampunan dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik!

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 118

9. فَسُبْحَانَ اللهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ.

9. Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh.

Surah 30: Ar-Rum Ayat 17

10. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ.

10. Dan bagiNyalah segala puji di langit dan bumi, dan di waktu petang dan di waktu kamu berada di waktu dhuhur.

Surah 30: Ar-Rum Ayat 18

11. يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَيُحْيِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرِجُوْنَ.

11. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya: dan seperti itulah kamu dikeluarkan dari kubur.

Surah 30: Ar-Rum Ayat 19

12. أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم.ِ (ثلاثا)

12. Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari bisikan syaitan yang terkutuk. (3X)

Dari Abu Daud diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; “Apabila Rasulullah s.a.w. sembahyang tahajjud, selepas beliau bertakbir, baginda membaca: “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar dan Lailaha illallah, tiga kali kemudian beliau mengucap: “Aku berlindung dengan Allah, Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari bisikan syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, godaannya dan ludahnya.

13. لَوْ أَنْزَلْنَـا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًـا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ، وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ.

13. Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-pecah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Surah 59: Al-Hashr Ayat 21

14. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهاَدَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ

14. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

Surah 59: Al-Hashr Ayat 22

15. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِـنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ، سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ.

15. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan Selain Dia; Raja Yang Maha Suci; Yang Maha Sejahtera; Yang Mengurniakan keamanan; Yang Maha Memelihara; Yang Maha Perkasa; Yang Maha Kuasa; Yang Memeliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Surah 59: Al-Hashr Ayat 23

16. هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ، لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيمُ.

16. Dialah Allah Yang Menciptakan; Yang Mengadakan; Yang Membentuk Rupa; Yang Mempunyai sifat-sifat yang baik; Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana. Surah 59: Al-Hashr Ayat 24

17. سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ.

17. Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Surah 37:Al-Saffat Ayat 79

18. إِنَّا كَذَلِكَ نُجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ.

18. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Surah 37:Al-Saffat Ayat 80

19. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ.

19. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Surah 37:Al-Saffat Ayat 81

20. أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. (ثلاثا)

20. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhlukNya. (3X)

Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”

21. بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ أسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. (ثلاثا)

21. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tak satu pun, yang di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana dan Ia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)

Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang, tiada kesakitan apa jua akan di alaminya.”

22. الَّلهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِي نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ، فَأَتْمِمْ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. (ثلاثا)

22. Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendapatkan kurnia, kesehatan serta perlindungan daripada-Mu di pagi hari ini, maka sempurnakan kurnia kesihatan serta perlindungan-Mu padaku di dunia dan akhirat. (3X)

23. اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ. (أربعا)

23. Ya Allah, di pagi hari ini aku mengambil-Mu sebagai saksi, begitu pun para pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu dan seluruh makhluk-Mu, bahawa Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau, Tunggal tiada sekutu, dan bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu. (4X) (Sila rujuk ke-31)

24. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. (ثلاثا)

24. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, pujian yang memadai nikmat-nikmat-Nya dan mencukupi penambahanNya. (3X)

25. آمَنْتُ بِاللهِ العَظِيْمِ، وَكَفَرْتُ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ، وَاسْتَمْسَكْتُ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى، لاَ اَنْفِصَامَ لَهاَ، وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيمٌ. (ثلاثا)

25. Aku beriman kepada Allah Yang Maha Agung dan ingkar terhadap sembahan selain Allah, kejahatan dan thoghut (segala yang disekutukan dengan Allah), dan aku berpegang dengan tali yang kukuh yang tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X) Surah Al-Baqarah Ayat 256;

Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Salam, yang menceritakan satu peristiwanya kepada Rasulullah s.a.w. lalu baginda berkata, “Syurga itu Islam, dan berpeganglah Pegangan Yang Teguh (urwat al-wuthqa) supaya kamu sentiasa menjadi seorang Muslim sampai kamu mati.”

26. رَضِيْتُ بِاللهِ رَبـًّا، وَ بِالإِسْلاَمِ دِيْنـًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُولاً. (ثلاثا)

26. Aku ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad s.a.w. sebagai Nabi dan rasul. (3X)

Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Sesiapa berdoa setiap pagi dan petang dengan doa ini akan masuk ke syurga.” Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya ugama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.

27. حَسْـبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَ هُـوَ عَلَيْـهِ تَـوَكَّلْتُ وَهُـوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْـمِ. (سبعاً)

27. Cukuplah Allah sebagai pelindungku; tiada Tuhan melainkan Dia, kepada-Nya aku bertawakal, dan Dialah Penguasa Arasy yang agung. (7X) Surah 9 al-Tawbah Ayat 129. Dari Tirmidhi, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bagaimana saya hendak rehat sedangkan tiupan telah sedia di mulutnya, membuka telinganya dan tunduk kepalanya, menunggu arahan untuk meniup? Ditanya lagi, apa pula arahan baginda, “Cukuplah Allah sebagai pelindungku dan Dia lah sebaik-baik penjaga.”

28. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. (عَشرًا)

28. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam-Mu ke atas penghulu kami Muhammad serta keluarga dan sahabat-sahabatnya. (10X)

Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin Al ’As: Rasullulah s.a.w. bersabda: “Sesiapa meminta Allah berselawat kepadaku, Allah akan membalas keatasnya dengan sepuluh kali selawat.”

Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad s.a.w); wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya..”

29. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فُجَاءَةِ الْخَيْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فُجَاءَةِ الشَّرِّ.

29. Ya Allah aku bermohon kepada-Mu untuk kebaikan yang tidak disangka; dan aku berlindung dengan-Mu daripada bencana yang mengejut. (Sila rujuk Hadith Per. 31)

30. اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ، وَ أَناَ عَبْدُكَ، وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ.

30. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau; Engkau ciptakan daku dan aku ini adalah hamba-Mu dan aku akan menuruti titah dan amanat-Mu sekuat tenagaku.

Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Shaddad ibn Aws; Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sebaik-baiknya cara memohon ampunan dari Allah ialah: “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau; Engkau ciptakan daku dan aku ini adalah hamba-Mu dan aku akan menuruti titah dan amanat-Mu sekuat tenagaku tanpa soal. Aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal buruk yang Engkau ciptakan, dan aku mengakui nikmat kurnia-Mu kepadaku, serta mengakui dosaku, maka ampunilah daku, kerana tak ada yang mampu mengampuni dosa itu selainkan Engkau.” Rasulullah s.a.w bersambung lagi... (Sila rujuk Hadith Per. 31 dibawah)

31. أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ مـَا صَنَعْـتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فاَغْفِرْ لِيْ، فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

31. Aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal buruk yang Engkau ciptakan, dan aku mengakui nikmat kurnia-Mu kepadaku, serta mengakui dosaku, maka ampunilah daku, kerana tak ada yang mampu mengampuni dosa itu selainkan Engkau.

Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Buraydah ibn Hasib; Rasullulah s.a.w. bersabda: Kalau sesipa katakan di waktu pagi dan petang,: “ Ya Allah! Engkaulah Tuhanku; tiada tuhan selain-Mu, Engkau Penciptaku, aku hamba-Mu, dan aku berpegang dengan tali yang kokoh yang tidak akan putus; Aku berlindung dari perkara buruk yang aku telah lakukan; aku mengakui nikmat-Mu serta dosaku; ampunilah aku sebab tiada yang mampu mengampuni selainkan Engkau.”, dan jika dia mati pada hari atau malam itu, dia akan masuk syurga.

32. اَللَّهُـمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَ اِلَهَ إلاَّ أَنْتَ، عَلَيْكَ تَوَكَّلْـتُ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَـرْشِ الْعَظِيْـمِ.

32. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku tiada tuhan selain Engkau, hanya kepada Engkau aku berserah diri, dan Engkaulah Tuhan yang mempunyai Keagungan.

Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas; Rasullulah s.a.w. apabila dimasa kesusahan berdoa dengan membaca: “Tiada yang berhak disembah melainkan Allah, Maha Sejahtera, Maha Kuasa. Tiada yang berhak disembah selain Allah, Tuhan senanjung syurga dan dunia, Raja Yang Agung.”

33. مَا شَاءَ اللهُ كَـانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَـمْ يَكُنْ، وَلاَ حَـوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

33. Apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi, Tiada daya dan tiada kekuatan tanpa pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Rujuk Keterangan di Per: 54)

34. اَعْلَـمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْـرٌ، وَاَنَّ اللهَ قَدْ أَحَـاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًـا.

34. Aku mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah tetap meliputi ilmu-Nya atas tiap-tiap sesuatu.

Surah 65: Al Talaq Ayat 12

35. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ كُـلِّ دَابَّـةٍ أَنْتَ آخِـذٌ بِنَا صِيَتِهاَ، إِنَّ رَبِيِّ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. *

35. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan diriku sendiri, dan dari kejahatan segala yang melata yang ubun-ubunnya berada dalam genggaman-Mu, sesungguhnya Tuhanku selalu berada di atas jalan yang lurus.

36. يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ، وَمِنْ عَذَابِكَ أَسْتَجِيْرُ.

36. Ya Allah, Yang Hidup, Tuhan Yang Berdiri Sendiri, aku memohon pertolongan dengan kasih sayang-Mu, dan aku memohon perlindungan daripada siksa-Mu.

37. أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَي نَفْسِيْ وَلاَ إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ طَرْفَةَ عَيْنٍ.

37. Berilah kepadaku kebaikan dalam semua permasaalahanku, janganlah Engkau menyerahkan daku kepada diriku sendiri, dan jangan juga kepada salah seorang pun daripada makhluk-Mu walau sekelip mata sekalipun.

38. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.

38. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada keluh kesah dan kesedihan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada bebanan hutang dan daripada paksaan manusia.

Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik; apabila Rasulullah s.a.w., berhenti untuk berehat; saya dengar baginda berdoa: “Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada keluh kesah dan kesedihan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada bebanan hutang dan daripada paksaan manusia"

39. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ، فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.

39. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat.

40. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَـافِيَةَ، وَالْمَعَافاَةَ الدَّائِمَةَ، فِي دِيْنِيْ وَدُنْياَيَ وَأَهْلِيْ وَماَلِيْ.

40. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu pengampunan dan kesejahteraan serta perlindungan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.

Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Umar; Rasulullah s.a.w. selalu mengucapkan doa ini di waktu pagi dan petang: “Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu pengampunan dan kesejahteraan serta perlindungan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah segala ke’aibanku, dan amankanlah ketakutanku. Ya Allah, peliharalah daku dari malapetaka yang datang dari depanku dan dari belakangku, dan dari kananku dan dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan ditipu dari bawahku (tanpa disedari).)

41. اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ.

41. Ya Allah, tutupilah segala ke’aibanku, dan amankanlah ketakutanku. (Sila rujuk Hadith Per: 40)

42. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِماَلِيْ وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتاَلَ مِنْ تَحْتِيْ. *

42. Ya Allah, peliharalah daku dari malapetaka yang datang dari depan dan belakangku, dan dari kanan dan kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan ditipu dari bawahku (tanpa disedari). (Sila rujuk Hadith Per: 40)

43. اَللَّهُـمَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِـيْ، وَأَنْتَ تَهْدِيْنِـيْ، وَأَنْتَ تُطْعِمُنِـيْ وَأَنْتَ تَسْقِيْنِـيْ، وَأَنْتَ تُمِيْتُنِـي، وَأَنْتَ تُحْيِيْنِـيْ.

43. Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan daku, memberikan petunjuk kepadaku, memberi makanan padaku, memberikan minuman kepadaku, mematikan daku, dan membangkitkan daku semula.

Dari Muslim, diriwayatkan oleh Miqdad, Rasulullah s.a.w bersabda, “Allah, memberiku makanan, memberiku minuman,” setelah baginda dapati susunya telah di minum oleh seorang.

44. أَصْبَحْناَ عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً، وَماَ كاَنَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. *

44. Kami berada pada pagi ini dengan fitrah beragama Islam, di atas kalimah ikhlas, dengan agama Nabi kami Muhammad s.a.w dan agama bapa kami Ibrahim a.s. yang lurus dan berserah diri (kepada Allah), dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain.

“Hari ini Kami telah lengkapkan agamamu, dan penuhkan nikmat-Ku kepadamu, dan meredhai untukmu Islam sebagai agamamu. Surah 5: al-Ma’idah Ayat 3

45. اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ، أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ.

45. Ya Allah! sesungguhnya kami berada di waktu pagi bersama Engkau, demikian pula di waktu petang, dan di kala hidup dan di kala mati, dan hanya kepada-Mu lah tempat kebangkitan, kami berada di waktu pagi sedang kekuasaan tetap berada bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Dari AbuDawud, diriwayatkan oleh Abu Malik; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila bangun pagi, bacalah: “Ya Allah, sesungguhnya kami berada di waktu pagi bersama Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini keterbukaannya, kemudahannya, cahayanya, keberkatanmya dan petunjuknya; dan perlindungan dari keaiban yang datang dengan nya dan sesudahnya.” Pada petang hari serupa juga.

46. اَللَّهُّمَ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيُوْمِ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُداَهُ

46. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, pembukaannya, kemudahannya, cahayanya, berkatnya dan petunjuknya.

47. اَللَّهُمَّ إِنَّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذاَ الْيُوْمِ، وَخَيْرَ ماَ فِيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذاَ الْيُوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ.

47. Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan aku berlindung kepada-Mu daripada keburukan hari ini dan keburukan apa yang terdapat didalamnya.

48. اَللَّهُمَّ ماَ أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَـدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَى ذَلِكَ.

48. Ya Allah, nikmat yang aku terima di pagi ini, atau yang di terima oleh salah seorang dari hamba-Mu, maka sumbernya hanyalah Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu lah pujian dan kepada-Mu kami bersyukur atas semuanya itu.

Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Abu Malik; “Seorang bertanya Rasulullah s.a.w.: ‘Berilah kami suatu ayat yang boleh kami ulangi tiap pagi, petang dan apabila kami bangun dari tidur.’ Baginda suruh kami berdoa: "Ya Allah! Yang Mencipta Syurga dan dunia, Yang Mengetahui semua yang zahir dan batin, Engkaulah Tuhan sekian makhluk; para malaikat saksikan bahwa tiada tuhan selain-Mu, kami berlindung dengan-Mu dari keburukan diri kami dan dari bisikan syaitan yang menyekutukan Mu.”

49. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ. (ثلاثا)

49. Maha Suci Allah dan puji-pujian untukNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak bilangan keridhaanNya, sebanyak timbangan ‘ArsyNya dan sebanyak tinta untuk menulis kalimatNya. (3X)

Diriwayatkan daripada Juwairiyah Ummil Mukminin r.a., bawahasanya Nabi s.a.w keluar dari rumahnya pada suatu pagi setelah habis sembahyang subuh sedang Juwairiyah masih di tempat sembahyangnya (berzikir), apabila beliau kembali ke rumah setelah menunaikan shalat Dhuha, beliau dapati Juwairiyah masih di tempat sembahyangnya lagi, lalu beliau bertanya: Apakah engkau masih lagi berkeadaan seperti aku tinggalkanmu tadi? Maka berkata Nabi s.a.w.: Bila aku meninggalkanmu tadi aku telah mengucapkan empat kalimah sebanyak 3 kali, jika ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan sejak awal hari tadi niscaya ia lebih daripada apa yang engkau ucapkan, iaitu wirid yang disambung dengan”sebanyak bilangan ......”.

50. سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى نَفْسِـهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ. (ثلاثا)

50. Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan puji-pujian untukNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak bilangan keridhaan-Nya, sebanyak timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak bilangan kalimat-Nya. (3X)

51. سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَـاءِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)

51. Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya dan Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X)

Diriwayatkan daripada Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahawasanya dia bersama Rasulullah s.a.w. mendatangi seorang perempuan sedang pada kedua tangan perempuan itu ada biji (kurma) atau kerikil dihitungnya dalam tasbihnya, maka bersabda Rasulullah s.a.w.: Mahukah engkau aku memberitahumu sesuatu yang lebih mudah atau lebih utama buatmu? Lalu beliau menyambung dengan membaca wirid yang disambung seperti diatas ini

.

52. اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)

52. Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya dan segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X)

53. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِـكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)

53. Tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X)

54. اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)

54. Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X)

Dari Al-Muwatta, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang membaca: “Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya, kepunyaan-Nya lah kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu” dalam sehari sebanyak seratus kali, nescaya dia mendapat pahala sebagaimana memerdekakan sepuluh orang hamba. Dia juga diampunkan seratus kejahatan, dibuat untuknya benteng sebagai pelindung dari syaitan pada hari tersebut hingga ke petang. Tidak diganjarkan kepada orang lain lebih baik daripadanya kecuali orang tersebut melakukan amalan lebih banyak daripadanya. Manakala mereka yang berkata: “Maha suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah”, dalam sehari sebanyak seratus kali nescaya terhapuslah segala dosanya sekalipun dosanya itu banyak seperti buih di lautan .

(i) Al-Habib Abibakar Sakaran didalam Hizbnya telah mengatakan bahawa pengucapan, “Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sekalian” ialah sebagai pintu menuju kepada Allah; dan kunci ke pintu itu ialah ucapan, “Tiada tuhan melainkan Allah”; dan pertahanannya ialah ucapan, “Tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”

55. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي الأَرْضِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِـكَ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ. (ثلاثا)

55. Tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X)

56. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا بَيْـنَ ذَلِـكَ،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ.

56. Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy (buta huruf) dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan-Nya.

57. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ كُلِّ ذَرَّةٍ أَلْفَ مَرَّةٍ. (ثلاثا)

57. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, sebanyak bilangan zarah yang dicipta-Nya seribu kali. (3X)

58. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ ماَ هُوَ خَالِقٌ.

58. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah Kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya.

وَ فِي بَعْض النسخ زيادة واختـلاف في هذه التسبيحـات الأخيرة، فمن شاء فليعمل بها. فكلها واردة. اهـ.

وقد اختارها حفيد الْمؤلف الإمام علوي بن أَحْمد بن حسن الْحداد لأن الثابت في الأصل من هذه التسبيحات هو:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة)، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة)

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ. (مائة مرة)

(وَيَزِيدُ صَبَاحًا) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْـكُ وَلَهُ الْحَمْـدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. (مائة مرة)

فمن عمل بِها فهو الأكمل. اهـ

Nota:

Jika dibaca pada waktu petang gantikanlah perkataan-perkataan yang di garis bawah itu seperti berikut:

وَيَقُولُ فِي الْمَسَاء بَدَل " أَصْبَحْتُ " - " أَمْسَيْتُ "

Di ayat 22, 23, 44 dan 45: “Pagi” digantikan dengan “Petang”.

وَبَدَل " اَلْنُشُوْرِ " - " اَلْمَصِيْرِ "

Di ayat 45 “kebangkitan” digantikan dengan “kembali”.

وَبَدَل " الْيَوْمِ " - " اللَّيْلِ "

Dan di dalam ayat 46 dan 47: “hari” digantikan dengan “malam”.

إنتهى الورد اللطيف

Tamat Wirdul-Latif

Sumber : Zaini's Site

Sufizone & Hikamzone By Pondok Pesantren Subulus Salam : www.ppsubulussalam.co.cc


READ MORE - sufizone : Wirdul-Latif

Share

Share |

Artikel terbaru

Do'a

اللهم إني أسألك إيمانا يباشر قلبي ويقيناً صادقاً حتى أعلم أنه لن يصيبني إلا ما كتبته علي والرضا بما قسمته لي يا ذا الجلال والإكرام

Translation

Artikel Sufizone

Shout Box

Review www.sufi-zone.blogspot.com on alexa.com How To Increase Page Rankblog-indonesia.com blogarama - the blog directory Active Search Results Page Rank Checker My Ping in TotalPing.com Sonic Run: Internet Search Engine
Free Search Engine Submission Powered by feedmap.net LiveRank.org Submit URL Free to Search Engines blog search directory Dr.5z5 Open Feed Directory Get this blog as a slideshow!